organisasiSwasta

Hadiri IMTC Bali 2026, APGI Papua Tengah Dorong Pengembangan Wisata Pendakian Gunung Nemangkawi

3
×

Hadiri IMTC Bali 2026, APGI Papua Tengah Dorong Pengembangan Wisata Pendakian Gunung Nemangkawi

Sebarkan artikel ini

Caption : Kru pendaki mengikuti kegiatan pendakian di kawasan Gunung Batur yang berlokasi di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Minggu (7/6/2026), dalam rangkaian kegiatan Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) 2026. Foto: Yosep Mayabubun/Nemangkawipos.com.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Badan Pengurus Provinsi Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Papua Tengah mengapresiasi seluruh perwakilan APGI Papua Tengah yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) 2026 yang berlangsung di Bali pada 6–9 Juni 2026.

Keikutsertaan APGI Papua Tengah dalam forum nasional tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Provinsi Papua Tengah. Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Pariwisata Gunung yang Aman, Berkualitas, dan Berkelanjutan” itu dinilai dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan wisata pegunungan di Papua Tengah, khususnya dalam meningkatkan aspek keselamatan, kualitas layanan, dan keberlanjutan pariwisata berbasis alam serta budaya.

Ketua APGI Provinsi Papua Tengah, Dolfin Beanal, menyampaikan apresiasi kepada APGI Pusat dan Pemerintah Provinsi Bali atas suksesnya penyelenggaraan konferensi tersebut. Menurutnya, kolaborasi yang dibangun dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, mendorong pemberdayaan masyarakat, serta mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Baca Juga :

“Melalui kegiatan ini, kami memperoleh banyak pengalaman dan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pengembangan wisata pegunungan di Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Mimika,” ujar Dolfin usai mengikuti kegiatan tersebut.

Dolfin menilai Kabupaten Mimika memiliki potensi besar untuk menjadi tuan rumah kegiatan serupa di masa mendatang.

Dengan kekayaan alam pegunungan, budaya masyarakat adat, dan berbagai destinasi wisata alam yang dimiliki, Mimika dinilai layak berkembang menjadi salah satu destinasi wisata pegunungan berkelas nasional maupun internasional.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan kawasan Carstensz Pyramid atau Gunung Nemangkawi merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Mimika sebagai ikon wisata pegunungan dunia. Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika terus memberikan dukungan terhadap berbagai program dan kegiatan APGI yang bertujuan mempromosikan potensi wisata daerah.

Selain itu, Dolfin juga berharap dukungan dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) terus berlanjut dalam upaya pengembangan wisata pendakian gunung di Papua Tengah.
Caption : Peserta mengikuti pembukaan kegiatan Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) 2026 yang diselenggarakan di Bali pada 6–9 Juni 2026. Kegiatan ini mempertemukan para pemangku kepentingan sektor pariwisata gunung dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas pengembangan wisata pegunungan yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Foto: Yosep Mayabubun/Nemangkawipos.com.

Menurutnya, YPMAK memiliki peran strategis dalam mendorong pemberdayaan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata berbasis alam yang tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat adat Amungme dan Kamoro.

Sebagai Ketua APGI Papua Tengah sekaligus anggota DPRK Mimika, Dolfin menegaskan bahwa setiap operator wisata gunung, baik dari luar daerah maupun luar negeri, harus menjalin kerja sama dengan operator dan pemandu lokal yang memiliki legalitas dan kompetensi di wilayah setempat.

Ia menyebutkan, kemitraan dengan operator lokal seperti PT Wisata Puncak Nemangkawi (PT WPN) penting untuk menjamin keselamatan pendaki, kepatuhan terhadap regulasi, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam industri pariwisata.

“Keterlibatan operator dan pemandu lokal sangat penting agar manfaat ekonomi dari sektor wisata gunung dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar kawasan wisata,” katanya.

Dolfin menambahkan bahwa pola kemitraan seperti ini telah diterapkan di berbagai kawasan taman nasional di Indonesia dan terbukti mampu mendorong pengembangan pariwisata yang lebih inklusif, profesional, dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan agar seluruh operator wisata pendakian yang beroperasi di kawasan Gunung Nemangkawi mematuhi ketentuan yang berlaku dan mengutamakan kolaborasi dengan pihak lokal sebagai bagian dari upaya membangun pariwisata yang berpihak kepada masyarakat setempat.

“Pengembangan wisata gunung harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan dilakukan secara profesional dengan mengedepankan keselamatan, keberlanjutan, serta penghormatan terhadap budaya dan wilayah adat,” tutupnya.

Penulis: Ocen MEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *