DPR

Sentil Dinas Pendidikan, Araminus Omaleng: Jangan Bangun Gedung Mega Jika SDM Masih Terabaikan!

43
×

Sentil Dinas Pendidikan, Araminus Omaleng: Jangan Bangun Gedung Mega Jika SDM Masih Terabaikan!

Sebarkan artikel ini

Caption : Anggota DPR Papua Tengah, Araminus Omaleng, memberikan keterangan kepada wartawan terkait sektor pendidikan di Mimika. Foto: Stendy

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Visi ekspansi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga ke pelosok distrik yang diusung Bupati dan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Emanuel Kemong, mendapat sorotan tajam dari parlemen.

Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Araminus Omaleng, mengingatkan agar pemerintah daerah tidak terjebak pada pembangunan fisik semata, sementara kualitas sumber daya manusia (SDM) justru tertinggal.

Menurutnya, mendukung visi kepala daerah tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur pendidikan, tetapi harus disertai strategi konkret dalam penguatan kapasitas manusia.

Baca Juga :

Ditemui di Timika, Sabtu (11/4/2026), Araminus menilai anggaran pendidikan di Mimika yang tergolong besar seharusnya mampu mendorong lahirnya generasi unggul, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.

“Kita harus bangun manusianya dulu, baru bangun gedung-gedung mega. Dinas terkait jangan seolah-olah buta dan tuli terhadap realitas di akar rumput. Anggaran kita besar, tapi kalau tidak mampu membuat terobosan, itu sia-sia,” tegasnya.

Ia menyoroti masih adanya pendekatan birokrasi yang kaku, sehingga program pendidikan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah pesisir maupun pegunungan.

Araminus juga menekankan pentingnya melibatkan gereja dan yayasan lokal dalam pembangunan pendidikan. Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut selama ini telah berperan aktif dan memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.

Sebagai Pembina Yayasan Gerbang Terang Timur, ia menyebut bahwa yayasan memiliki pengalaman dan kapasitas dalam membangun pendidikan berbasis komunitas.

“Yayasan tidak kalah saing. Kami punya tempat, kami punya kedekatan dengan masyarakat, dan kami tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang tua di kampung,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan sosial seperti aktivitas adat dan pola kerja masyarakat kerap membuat proses belajar di sekolah formal tidak berjalan optimal. Dalam kondisi ini, pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif.

Sebagai contoh, Araminus mengungkapkan keberhasilan Yayasan Gerbang Terang Timur dalam mengelola TK Nangmora di Mile 32 selama tujuh tahun sebagai model pendidikan yang adaptif di wilayah sulit.

Ia pun mendesak pemerintah daerah agar segera membangun kolaborasi serius dengan yayasan dan gereja untuk mempercepat pemerataan pendidikan.

“Saya minta dinas terkait segera bangun dari tidur. Gandeng yayasan dan gereja secara serius. Kalau ingin mencetak generasi emas dari pedalaman, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi Pemerintah Kabupaten Mimika untuk mengevaluasi arah kebijakan pendidikan, agar tidak sekadar menghasilkan pembangunan fisik, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *