DPR

Jeritan Warga Pedalaman Mimika: Jalan Kaki 2 Hari Demi Sembako, Desak Lapter Hoeya Segera Beroperasi

14
×

Jeritan Warga Pedalaman Mimika: Jalan Kaki 2 Hari Demi Sembako, Desak Lapter Hoeya Segera Beroperasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com — Kondisi memprihatinkan kembali disuarakan oleh masyarakat pedalaman Kabupaten Mimika. Warga asal Distrik Hoeya yang berdomisili di Timika mencurahkan isi hati mereka kepada Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika jalur pengangkatan, Adolina Magal, saat menggelar Reses Tahap II di Kompleks Masyarakat Kampung Putih, Jalan Irigasi, Distrik Mimika Baru, Sabtu (11/7/2026).

​Di tengah antusiasme warga yang memadati lokasi sejak pagi, terungkap sebuah fakta pilu mengenai beratnya akses transportasi yang harus dihadapi masyarakat Distrik Hoeya setiap hari.

Hingga saat ini, wilayah tersebut belum tersentuh akses jalan darat yang memadai. Untuk sekadar membawa pulang bahan kebutuhan pokok, warga terpaksa harus berjalan kaki menembus medan berat dari Stinga menuju Hoeya dengan waktu tempuh mencapai satu hingga dua hari.

Baca Juga :

Kondisi ekstrem ini tidak hanya melumpuhkan distribusi logistik, tetapi juga memicu krisis di sektor krusial lainnya seperti layanan kesehatan darurat dan aktivitas pendidikan.

​Melihat penderitaan yang tak kunjung usai, warga mendesak agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan cepat. Mereka meminta percepatan pelaksanaan test landinging di Lapangan Terbang Perintis (Lapter Hoeya) agar fasilitas udara tersebut bisa segera dioperasikan.

​Bagi warga, kehadiran lapter ini adalah satu-satunya harapan hidup untuk membuka isolasi wilayah dan mempermudah mobilitas masyarakat pedalaman.

​Menanggapi jeritan dan aspirasi warganya, Adolina Magal menegaskan bahwa seluruh keluhan tersebut akan dikawal ketat dan diperjuangkan melalui jalur legislatif serta dikoordinasikan langsung dengan Pemkab Mimika dan instansi terkait.

“Reses merupakan kesempatan bagi kami untuk mendengar secara langsung kebutuhan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan akan kami bawa dan perjuangkan agar mendapat tindak lanjut dari pemerintah,” tegas Adolina di hadapan ratusan warga.

Suasana haru dan kekeluargaan tampak kental menyelimuti akhir kegiatan reses ini. Pertemuan tersebut ditutup dengan tradisi bakar batu —simbol sakral persatuan dan kebersamaan yang melibatkan seluruh tokoh adat, tokoh masyarakat, kaum perempuan, pemuda, hingga anak-anak berbaur menjadi satu.

​Sebagai wujud kepedulian nyata di tengah himpitan ekonomi warga, Adolina Magal juga menyerahkan bantuan bahan makanan (bama) yang disambut penuh syukur oleh masyarakat.

Melalui momentum reses ini, warga Distrik Hoeya berharap suara mereka dari pedalaman akhirnya sampai ke meja pengambil kebijakan, membawa angin segar berupa pembangunan infrastruktur yang merata di tanah Mimika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *