EkonomiMasyarakat

Jeritan Hati Mama Agustina untuk Pemerintah: Di Tengah Lonjakan Harga, Tolong Bimbing dan Perhatikan Kami Pelaku Ekonomi Lokal!

42
×

Jeritan Hati Mama Agustina untuk Pemerintah: Di Tengah Lonjakan Harga, Tolong Bimbing dan Perhatikan Kami Pelaku Ekonomi Lokal!

Sebarkan artikel ini

Capt :Mama Agustina, pedagang sayur mayur lokal Orang Asli Papua (OAP) yang berjualan di salah satu pasar di Timika. Foto: Stendy.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com — Di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang terus menekan daya beli masyarakat, semangat Mama Agustina, seorang pedagang sayur mayur Orang Asli Papua (OAP) di Pasar Sentral Timika, tak ikut surut. Dengan modal yang terbatas, ia tetap bertahan menghidupi keluarganya sekaligus membuktikan bahwa pedagang lokal mampu bersaing di tanahnya sendiri.

Di balik lapak sederhana yang dipenuhi aneka sayuran segar, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan Papua yang setiap hari harus menghitung setiap rupiah agar usahanya tetap berjalan.

Saat ditemui Nemangkawipos.com, Jumat pagi (31/7/2026), Mama Agustina mengaku lonjakan harga sayuran dari pemasok membuatnya harus lebih cermat mengelola modal.

Baca Juga :

“Sekarang semuanya serba mahal. Kenaikan harganya sangat terasa. Mama ambil sayur disesuaikan dengan uang yang ada supaya modalnya masih bisa diputar lagi untuk jualan besok,” ujarnya.

Bagi Mama Agustina, berdagang bukan sekadar mencari keuntungan. Usaha kecil yang dijalankannya merupakan sumber penghidupan keluarga sekaligus bukti bahwa perempuan Papua mampu mandiri dan bersaing dengan siapa pun.

Menurutnya, kesempatan tidak akan datang jika hanya ditunggu.

“Kalau ada kesempatan jangan hanya dilihat. Kita harus berusaha menjemput kesempatan itu. Kalau kita mau bekerja, pasti ada jalan,” katanya penuh semangat.

Namun, perjuangan itu belum sepenuhnya mendapat dukungan yang memadai. Mama Agustina berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta instansi terkait, lebih serius memperhatikan para pedagang Orang Asli Papua yang kini mulai bangkit mengembangkan usaha secara mandiri.

Ia mengaku selama ini seluruh usaha dijalankan dengan modal sendiri tanpa dukungan permodalan yang memadai.

“Mama minta pemerintah benar-benar lihat kami orang asli Papua yang sudah mulai bisa bersaing. Bantu kami, bimbing kami. Selama ini kami usaha sendiri, modal sedikit-sedikit diputar supaya besok masih bisa jualan lagi,” ungkapnya.

Kisah Mama Agustina menjadi potret nyata perjuangan pelaku UMKM lokal di tengah tekanan ekonomi. Saat harga kebutuhan pokok terus meningkat, mereka tidak hanya dituntut bertahan, tetapi juga harus mampu bersaing dengan pedagang yang memiliki modal lebih besar.

Perjuangan pedagang seperti Mama Agustina menjadi pengingat bahwa pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua tidak cukup hanya diwacanakan. Dukungan berupa akses permodalan, pelatihan usaha, pendampingan, hingga perluasan akses pasar menjadi kebutuhan nyata agar para pelaku UMKM lokal tidak sekadar bertahan, tetapi mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi daerah.

Di balik lapak kecilnya di Pasar Sentral Timika, Mama Agustina telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Yang kini ditunggu masyarakat adalah keberpihakan nyata pemerintah agar semangat para pedagang lokal tidak padam, melainkan menjadi fondasi kebangkitan ekonomi Orang Asli Papua di negeri mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *