organisasi

Dari Mimika untuk Indonesia: Forum Harmoni Kebangsaan Jadikan HUT RI Momentum Rawat Kebinekaan dan Buka Ruang Dialog

3
×

Dari Mimika untuk Indonesia: Forum Harmoni Kebangsaan Jadikan HUT RI Momentum Rawat Kebinekaan dan Buka Ruang Dialog

Sebarkan artikel ini

Capt: Suasana dialog Forum Harmoni Kebangsaan dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Mimika. Foto: Stendy.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Mimika tidak hanya diwarnai perlombaan dan kegiatan seremonial. Forum Harmoni Kebangsaan menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkuat persatuan, menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini, sekaligus membuka komunikasi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah.

Rangkaian kegiatan tersebut mencapai puncaknya melalui Dialog Kebangsaan Forum Harmoni Kebangsaan yang digelar di Mimika, Rabu (12/8/2026). Dialog mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, pemuda, aparat keamanan, pelaku usaha hingga masyarakat umum.

Ketua Forum Harmoni Kebangsaan,Saleh Alhamid, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan lahir dari inisiatif masyarakat dan dilaksanakan secara mandiri tanpa mengajukan proposal pembiayaan kepada pemerintah.

Baca Juga :

“Ini dari kita, untuk kita. Kami tidak membuat proposal kepada pemerintah. Seluruh kegiatan kami laksanakan secara mandiri, termasuk hadiah dan kebutuhan kegiatan,” ujar Saleh.

Menurutnya, total biaya seluruh kegiatan mencapai sekitar Rp14 juta, yang bersumber dari partisipasi pribadi serta dukungan sejumlah pengusaha.

Bagi Saleh, semangat tersebut merupakan bentuk nyata bahwa kepedulian terhadap bangsa dan daerah tidak selalu harus menunggu bantuan pemerintah. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan, merawat kebinekaan dan menghidupkan semangat kebangsaan.

Sebelum dialog kebangsaan digelar, Forum Harmoni Kebangsaan melaksanakan sejumlah kegiatan untuk menyemarakkan HUT ke-81 RI, di antaranya pertandingan gaple/domino serta lomba menghafal Pancasila, teks Proklamasi Kemerdekaan dan Pembukaan UUD 1945.

Namun, kegiatan tersebut tidak sekadar mengejar kemenangan dalam perlombaan.
Forum Harmoni Kebangsaan ingin menjadikan kegiatan itu sebagai sarana pendidikan kebangsaan bagi generasi muda, khususnya anak-anak Papua, agar mereka mengenal dasar negara, sejarah kemerdekaan dan konstitusi Indonesia.

“Kalau kita mau bicara bangsa dan negara, kita harus memahami Pancasila, Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945. Itu dasar yang harus diketahui generasi muda,” tegas Saleh.

Ia berharap anak-anak tidak hanya mampu menghafal Pancasila dan teks kenegaraan untuk mengikuti lomba, tetapi juga memahami makna serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Saleh, pendidikan kebangsaan harus dimulai sejak dini dan tidak hanya dilakukan ketika memasuki bulan kemerdekaan. Keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Pesan kebangsaan tersebut dinilai semakin penting bagi Mimika yang dihuni masyarakat dengan latar belakang suku, agama, budaya dan kepentingan yang beragam.

Dalam kondisi masyarakat yang majemuk, persatuan menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Forum Harmoni Kebangsaan juga memberikan apresiasi kepada jajaran TNI dan Polri, termasuk Kapolres Mimika, yang hadir dalam kegiatan tersebut. Dukungan dari sejumlah pelaku usaha juga dinilai menjadi contoh bahwa membangun semangat kebangsaan dapat dilakukan secara bersama-sama.

“Kapolres luar biasa karena hadir memenuhi undangan kami. Dari TNI juga hadir. Ada pengusaha yang membantu, ada yang Rp2 juta, ada yang Rp3 juta. Semuanya kita gunakan untuk kegiatan ini,” ungkap Saleh.

Ia menegaskan Forum Harmoni Kebangsaan bukan wadah untuk mencari keuntungan, melainkan ruang bersama bagi masyarakat untuk bertemu, membangun persaudaraan dan membicarakan berbagai persoalan daerah.

Menariknya, dialog kebangsaan tersebut tidak hanya membicarakan nasionalisme dan persatuan. Berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat Mimika turut menjadi bahan pembahasan.

Mulai dari persoalan ekonomi, kesempatan usaha, ketenagakerjaan hingga pembangunan di Papua menjadi bagian dari aspirasi masyarakat yang ingin disampaikan kepada pemerintah.

Saleh menilai pembangunan akan berjalan lebih baik apabila komunikasi antara pemerintah dan masyarakat tetap terbuka.

“Ruang pertemuan dengan masyarakat harus dibuka. Jangan sampai komunikasi tersumbat. Masyarakat harus bisa menyampaikan keluhan dan pemerintah juga bisa mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat tidak ingin hanya menjadi penonton pembangunan. Warga juga ingin diberikan ruang untuk menyampaikan persoalan dan ikut memberikan masukan terhadap arah pembangunan daerah.

Forum Harmoni Kebangsaan membuka peluang untuk melanjutkan dialog dengan melibatkan Bupati Mimika Johannes Rettob dan jajaran Pemerintah Kabupaten Mimika.

Pertemuan lanjutan tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat menjadi ruang untuk membahas solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat.

“Kalau dalam rapat nanti disepakati untuk mengundang pemerintah, tentu kita akan mengundang. Bisa saja pemerintah menunjuk perwakilan untuk hadir. Yang penting komunikasi tidak boleh terputus,” kata Saleh.

Bagi Forum Harmoni Kebangsaan, membangun daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dunia usaha dan berbagai elemen lainnya memiliki peran yang sama dalam menjaga Mimika tetap aman, damai dan harmonis.

Momentum HUT ke-81 RI di Mimika akhirnya tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi pesan bersama bahwa kemerdekaan harus diisi dengan tindakan nyata.

Merawat kebinekaan, memperkuat persatuan, membuka ruang komunikasi dan menyiapkan generasi muda yang memahami Pancasila, Proklamasi serta konstitusi menjadi bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.

Forum Harmoni Kebangsaan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda berkelanjutan dan kembali dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.

“Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi. Tahun depan kita akan buat lagi. Kita ingin anak-anak Papua semakin mengenal Pancasila, Proklamasi dan UUD 1945. Dari hal-hal kecil seperti ini kita membangun rasa cinta kepada bangsa dan negara,” pungkas Saleh.

Dari Mimika untuk Indonesia: rawat kebinekaan, kuatkan persatuan, buka ruang dialog, dan siapkan generasi Papua yang memahami nilai-nilai kebangsaan.

Penulis: StendiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *