DPR

Dua Siswa Tewas di SP3, Dolfin Beanal Kecam Keras: “Ini Nyawa Manusia, Bukan Nyawa Binatang”

7
×

Dua Siswa Tewas di SP3, Dolfin Beanal Kecam Keras: “Ini Nyawa Manusia, Bukan Nyawa Binatang”

Sebarkan artikel ini

Capt: Ketua Komisi II DPRK Mimika, Dolfin Beanal, saat diwawancarai. Foto: Stendy

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Kasus pembunuhan yang menewaskan dua siswa STM Negeri 1 Kuala Kencana di kawasan SP3, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mendapat kecaman keras dari Anggota DPRK Mimika asal Partai Gerindra, Dolfin Beanal.

Dolfin yang juga menjabat Ketua Komisi II DPRK Mimika menilai tewasnya dua siswa yang sedang menjalani praktik kerja lapangan (PKL) tersebut merupakan tindakan yang sangat tidak manusiawi. Ia meminta pemerintah daerah dan aparat keamanan tidak memandang kasus tersebut sebagai persoalan biasa.

Kedua korban diketahui merupakan siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) yang sedang menjalani praktik di salah satu bengkel di kawasan SP3. Mereka ditemukan meninggal dunia dengan luka serius pada Minggu (30/8/2026) dini hari.

Baca Juga :

“Ini benar-benar tidak manusiawi. Mereka ini anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Mereka sedang melakukan pelatihan atau magang di salah satu bengkel, kemudian beristirahat dan dibunuh. Ini sangat kurang ajar,” tegas Dolfin kepada Nemangkawipos.com, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi perhatian serius karena korban bukan pihak yang sedang terlibat dalam konflik. Ia khawatir kekerasan yang dibiarkan tanpa penyelesaian akan memicu persoalan baru dan menyeret kelompok masyarakat lainnya.

“Ini tidak boleh dilihat sebelah mata. Harus dilihat serius, apalagi korbannya orang yang berada di luar tempat konflik. Anak-anak ini bukan sedang berada di jalan atau mencari masalah, tetapi sedang tidur. Mereka dibunuh. Ini sangat tidak manusiawi,” ujarnya.

Dolfin mengingatkan pemerintah daerah bahwa dirinya sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak konflik yang berpotensi meluas dan menimbulkan korban baru.

Ia mengatakan, jika persoalan keamanan tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin konflik berkembang menjadi persoalan antarkelompok masyarakat.

“Saya sudah sampaikan sebelumnya melalui media bahwa konflik ini akan berdampak dan bisa terjadi pembunuhan. Sekarang ini benar-benar terjadi,” katanya.

Karena itu, Dolfin meminta Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong melihat persoalan tersebut secara serius serta tidak menunggu sampai korban terus berjatuhan.

“Kalau kita biarkan konflik semakin tumbuh, pembunuhan semakin ramai di kabupaten ini. Akhirnya akan berdampak kepada suku ini, suku itu dan seterusnya. Saya minta Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati melihat ini serius, buka hati dan lihat mereka sebagai bagian dari kita,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat merupakan pihak yang memberikan mandat kepada pemerintah dan DPRK melalui proses demokrasi. Karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan dan rasa aman.

“Mereka juga bagian dari kita. Mereka yang memilih kita sampai kita duduk di jabatan ini. Setelah kita duduk, jangan sampai kita lupa dengan masyarakat,” ujarnya.

Dolfin juga meminta pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap upaya pengamanan dan penyelesaian konflik. Menurutnya, penanganan konflik tidak cukup hanya mengandalkan penyelesaian adat tanpa dukungan pemerintah dan aparat penegak hukum.

Ia bahkan mempertanyakan pemanfaatan anggaran tidak terduga yang dimiliki pemerintah daerah ketika terjadi situasi darurat seperti konflik dan bencana kemanusiaan.

“Kita punya biaya tidak terduga. Itu mau dikemanakan? Anggaran tidak terduga itu untuk melihat hal-hal seperti ini, melihat musibah-musibah yang terjadi di kabupaten ini,” katanya.

Menurutnya, anggaran tersebut dapat digunakan sesuai ketentuan untuk mendukung langkah-langkah pemerintah dalam menangani situasi darurat, termasuk penguatan keamanan dan upaya penyelesaian konflik.

“Berikan dukungan moral dan support keamanan yang baik. Kalau memang dibutuhkan anggaran untuk menyelesaikan konflik, berikan dukungan sesuai aturan. Jangan hanya bilang biarkan adat yang menyelesaikan. Kapan mau selesai kalau nyawa terus hilang?” tegasnya.

Dolfin menekankan, setiap korban yang jatuh merupakan manusia yang memiliki keluarga dan masa depan.

“Ini nyawa orang, bukan nyawa binatang. Kita sebagai manusia punya hati untuk melihat. Saya yakin kalau ini dibiarkan, ke depan akan semakin berimbas dan bisa mengenai suku-suku yang lain,” ujarnya.

Selain meminta pemerintah memperkuat langkah keamanan, Dolfin mendesak aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut secara menyeluruh dan menangkap pihak yang bertanggung jawab.

Ia menilai penegakan hukum penting untuk mencegah munculnya aksi balasan serta menjaga agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik baru.

“Proses hukum orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan menghilangkan nyawa manusia. Jangan dibiarkan,” pungkasnya.

Dolfin berharap pemerintah, TNI-Polri, tokoh masyarakat, tokoh adat dan seluruh elemen masyarakat dapat mengambil langkah bersama untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya. Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama sebelum persoalan keamanan di Mimika berkembang semakin luas.

Penulis: StendiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *