DPRHUKRIM

Tutup Konflik 10 Bulan, Yohanes Kemong Ajak Warga Kwamki Narama Jaga Damai

3
×

Tutup Konflik 10 Bulan, Yohanes Kemong Ajak Warga Kwamki Narama Jaga Damai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah, Yohanes Kemong, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung proses penyelesaian konflik dan menjaga perdamaian yang telah tercapai di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.

Ajakan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah, Yohanes Kemong, saat dihubungi awak media pada Rabu pagi (24/6/2026), menyusul pelaksanaan acara Patah Panah yang menjadi simbol berakhirnya konflik perang saudara di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.

Menurut Yohanes, konflik yang berlangsung selama kurang lebih 10 bulan telah memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, ia berharap momentum perdamaian yang telah dibangun dapat dijaga bersama demi terciptanya keamanan dan persatuan di tengah masyarakat.

Baca Juga :

“Hari ini kita bersyukur karena konflik yang berlangsung cukup lama akhirnya dapat diakhiri melalui jalan damai. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga perdamaian ini agar tidak terjadi lagi konflik yang merugikan banyak pihak,” ujar Yohanes Kemong.

Ia menegaskan bahwa perdamaian merupakan modal utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis serta mendukung pelaksanaan pembangunan di daerah.

Yohanes juga menyampaikan apresiasi kepada para tokoh adat, tokoh agama, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam mendorong terwujudnya perdamaian di Kwamki Narama.

“Perdamaian ini merupakan hasil kerja sama semua pihak. Karena itu, mari kita terus menjaga persaudaraan, saling menghormati, dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap persoalan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Yohanes Kemong mengungkapkan rasa syukur atas berakhirnya konflik yang selama ini melelahkan masyarakat. Ia meyakini bahwa campur tangan Tuhan turut menyertai proses perdamaian yang telah ditempuh.

“Puji syukur kepada Tuhan. Konflik yang berlangsung selama 10 bulan akhirnya dapat diakhiri. Semoga perdamaian ini menjadi awal yang baik bagi masyarakat Kwamki Narama untuk kembali hidup rukun, aman, dan sejahtera,” tuturnya.

Acara Patah Panah sendiri merupakan simbol adat yang menandai berakhirnya pertikaian dan menjadi komitmen bersama untuk menghentikan permusuhan serta membangun kembali hubungan persaudaraan di tengah masyarakat.

Penulis: StendiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *