DPRpemerintah kabupaten Mimika

PERDAMAIAN ADAT KWAMKI NARAMA, YOHANES KEMONG: CUKUP SUDAH PERANG, HARI INI SEMUA BERAKHIR

2
×

PERDAMAIAN ADAT KWAMKI NARAMA, YOHANES KEMONG: CUKUP SUDAH PERANG, HARI INI SEMUA BERAKHIR

Sebarkan artikel ini

Caption : Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah, Yohanes Kemong, bersama Bupati Mimika, Johannes Rettob, saat mengikuti prosesi perdamaian adat patah panah sebagai simbol berakhirnya konflik antarkelompok masyarakat di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Rabu (24/6/2026). Foto: Tim Multi Media Bupati Mimika.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Upaya perdamaian kembali menyelimuti Distrik Kwamki Narama setelah Pemerintah Kabupaten Mimika memediasi prosesi adat patah panah sebagai simbol berakhirnya konflik antarkelompok masyarakat, Rabu (24/6/2026).

Melalui ritual adat yang sarat makna tersebut, pemerintah bersama para tokoh masyarakat berharap konflik yang selama ini terjadi dapat benar-benar berakhir, sehingga masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai dan kembali fokus membangun daerah.

Dalam prosesi perdamaian itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah, Yohanes Kemong, menyampaikan pesan tegas kepada seluruh masyarakat agar tidak lagi terjebak dalam siklus konflik dan balas dendam yang hanya merugikan semua pihak.

Baca Juga :

Menurut Yohanes, sejak awal terjadinya konflik dirinya telah mendapat tugas dari pimpinan DPR Papua Tengah untuk hadir dan membantu mendorong penyelesaian persoalan yang terjadi di Kwamki Narama.

“Saya diutus oleh pimpinan untuk hadir sejak awal konflik ini terjadi. Tetapi saya ingin menyampaikan, jika ke depan terjadi perang lagi, maka kami di DPR Papua Tengah tidak akan lagi berbicara banyak. Kami akan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan sesuai aturan yang berlaku,” tegas Yohanes.

Sebagai putra Kwamki Narama, Yohanes mengaku prihatin melihat konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan prosesi patah panah sebagai titik akhir dari seluruh pertikaian yang selama ini terjadi.

“Saya juga sebagai anak Kwamki Narama mengatakan cukup sudah perang. Hari ini perang berakhir. Maka pada hari ini saya menandatangani perdamaian ini atas nama moyang dan leluhur, dan sebagai anggota DPR Papua Tengah saya menyatakan bahwa perang hari ini telah selesai dan berakhir,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tidak boleh lagi ada pengelompokan maupun sekat-sekat sosial yang berpotensi memicu konflik baru di tengah masyarakat Kwamki Narama.

“Mari kita dukung pemerintah daerah untuk membangun daerah ini. Tidak ada lagi petak-petak kelompok atau golongan di Kwamki Narama. Yang ada adalah masyarakat yang hidup bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik,” katanya.

Prosesi patah panah yang berlangsung dengan penuh khidmat tersebut menjadi simbol berakhirnya permusuhan antara pihak-pihak yang bertikai. Ritual adat itu juga menjadi komitmen bersama untuk menjaga keamanan, persatuan, dan kedamaian di wilayah Kwamki Narama.

Pemerintah Kabupaten Mimika berharap perdamaian yang telah disepakati melalui mekanisme adat tersebut dapat terus dijaga oleh seluruh masyarakat sehingga berbagai program pembangunan dapat berjalan dengan baik demi meningkatkan kesejahteraan warga.

Dengan berakhirnya konflik tersebut, masyarakat diharapkan dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal serta bersama-sama menjaga situasi kamtibmas yang aman, damai, dan kondusif di Distrik Kwamki Narama.

Penulis: StendiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *