HUKRIMpemerintah kabupaten Mimika

Konflik Kwamki Narama Berakhir Damai, Johannes Rettob: Ini Perang Saudara, Bukan Perang Suku

36
×

Konflik Kwamki Narama Berakhir Damai, Johannes Rettob: Ini Perang Saudara, Bukan Perang Suku

Sebarkan artikel ini

Caption: Bupati Mimika, Johannes Rettob, didampingi Ketua MRP, unsur Forkopimda, DPRP Papua Tengah, DPRK Mimika, tokoh adat, dan tokoh masyarakat menghadiri prosesi perdamaian adat konflik Kwamki Narama. Perdamaian ditandai dengan ritual pematahan panah sebagai simbol berakhirnya permusuhan dan komitmen bersama menjaga keamanan serta kedamaian di wilayah Kwamki Narama, Kabupaten Mimika. Foto: Kominfo

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Konflik yang terjadi di Distrik Kwamki Narama resmi diakhiri melalui upacara perdamaian adat yang berlangsung khidmat, Rabu (24/6/2026). Prosesi perdamaian ditandai dengan ritual adat panah babi dan pematahan panah di hadapan kedua belah pihak yang bertikai sebagai simbol berakhirnya permusuhan dan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian.

Upacara adat tersebut dihadiri oleh Bupati Mimika Johannes Rettob, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Agustinus Anggaibak, anggota DPR Papua Tengah, DPRK Mimika, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman, Dandim 1710/Mimika, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Kwamki Narama bukanlah perang antarsuku, melainkan konflik keluarga atau perang saudara yang harus diselesaikan secara damai demi menjaga persatuan dan masa depan masyarakat.

Baca Juga :

“Hari ini kita berkumpul untuk menyatakan perdamaian bersama atas perang saudara ini. Sekarang kita tutup. Saya sudah bertemu dengan kedua belah pihak dan mereka sepakat berdamai dan tidak ada perang lagi,” ujar Johannes Rettob.

Menurutnya, perdamaian yang terwujud merupakan hasil kerja keras dan komitmen bersama berbagai pihak yang selama ini berupaya meredam konflik dan membangun komunikasi antara kedua kelompok yang bertikai.

Johannes menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses penyelesaian konflik, termasuk tokoh adat, aparat keamanan, Majelis Rakyat Papua (MRP), DPR Papua Tengah, DPRK Mimika, serta seluruh elemen masyarakat yang terus mendorong terciptanya perdamaian.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, termasuk MRP, DPRP maupun DPRK. Setelah perdamaian ini, apabila ada hal-hal yang perlu disampaikan, silakan disampaikan kepada pemerintah daerah maupun aparat keamanan,” katanya.

Bupati berharap kesepakatan damai yang telah dicapai tidak hanya menjadi simbol seremonial, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kwamki Narama.

Ia mengajak seluruh warga untuk meninggalkan konflik, memperkuat persaudaraan, serta bersama-sama mendukung pembangunan daerah demi masa depan yang lebih baik.

“Saya berharap apa yang kita lakukan hari ini tidak lagi dilakukan. Kwamki Narama kita buat menjadi baik, aman, dan damai. Semoga perdamaian ini menjadi momen baru bagi Kwamki Narama,” tutupnya.

Prosesi pematahan panah yang menjadi bagian dari ritual adat tersebut menandai berakhirnya konflik yang sempat mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah berharap perdamaian ini menjadi fondasi kuat untuk menjaga stabilitas keamanan serta mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Distrik Kwamki Narama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *