DPR

Bukan Sekadar Dengar Aspirasi, Anggota DPRK Mimika Frederikus Kemaku Lakukan “Audit Sosial” di Pulau Karaka

34
×

Bukan Sekadar Dengar Aspirasi, Anggota DPRK Mimika Frederikus Kemaku Lakukan “Audit Sosial” di Pulau Karaka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA. NEMANGKAWIPOS.COM – Ada pemandangan berbeda dalam agenda Reses Tahap II anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Frederikus Kemaku. Alih-alih hanya datang untuk mencatat keluhan baru, politisi dari jalur pengangkatan ini justru melakukan “audit sosial” dengan menyambangi langsung warga di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh, Senin (13/7/2026).

Di tengah keterbatasan akses menuju pulau terluar ini, Frederikus menegaskan bahwa kunjungannya bukan sekadar seremonial. Ia hadir untuk membedah mengapa janji pembangunan yang telah lama dinantikan warga tak kunjung tiba.

Warga Pulau Karaka selama ini terjebak dalam tanda tanya besar mengenai nasib usulan pembangunan rumah layak huni, gedung gereja, hingga fasilitas sekolah. Selama ini, masyarakat mengaku hanya bisa menunggu tanpa kejelasan progres.

Baca Juga :

​”Saya ke sini bukan untuk mencari aspirasi baru seperti biasanya. Kunjungan ini adalah bentuk pengawasan ketat. Saya ingin mengecek langsung di lapangan, di mana letak kendalanya, kenapa usulan masyarakat yang sudah masuk bertahun-tahun tidak jalan,” tegas Frederikus di hadapan warga.

Dalam dialog yang blak-blakan tersebut, Frederikus membeberkan hambatan teknis yang selama ini menghambat realisasi program pemerintah daerah. Penjelasan langsung dari sang wakil rakyat ini sedikit menjawab kegelisahan warga yang selama ini merasa “dianaktirikan” oleh birokrasi.

Masyarakat Pulau Karaka tidak meminta kemewahan. Aspirasi mereka sangat mendasar: akses transportasi yang layak, fasilitas rumah ibadah, hingga alat musik sederhana untuk menunjang kegiatan ibadah di gereja.

Dalam dialog tersebut, warga bahkan mengusulkan skema pembangunan rumah yang lebih realistis dan bertahap agar bisa segera dirasakan dampaknya, tanpa harus menunggu anggaran besar yang turunnya tidak pasti.

Bagi Frederikus, wilayah pesisir dan pulau-pulau terpencil seperti Karaka adalah cermin keberhasilan pembangunan sebuah daerah. Ia menyoroti bahwa pemerataan pembangunan tidak boleh hanya berpusat di pusat kota.

​”Pembangunan di kampung-kampung terpencil harus menjadi prioritas. Masyarakat di sini berhak menikmati pelayanan dasar yang setara dengan wilayah lain. Saya berkomitmen untuk terus mengawal ini hingga ke meja dinas terkait agar tidak ada lagi usulan yang hanya berakhir di tumpukan berkas,” imbuhnya.

​Gaya “jemput bola” yang dilakukan Frederikus Kemaku ini mendapat apresiasi positif dari warga setempat. Kehadirannya di tengah masyarakat pulau terpencil menjadi sinyal kuat bahwa wakil rakyat kini mulai bergeser dari model “duduk di kantor” menjadi “aktif turun ke lapangan” demi memastikan hak-hak warga pesisir Mimika terpenuhi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *