HUKRIM

TPNPB Klaim Bertanggung Jawab atas Kematian Tiga Perempuan di Yahukimo, Ancam Lanjutkan Operasi di Dekai

19
×

TPNPB Klaim Bertanggung Jawab atas Kematian Tiga Perempuan di Yahukimo, Ancam Lanjutkan Operasi di Dekai

Sebarkan artikel ini

Caption: Rekaman video yang beredar memperlihatkan sejumlah orang diduga mengalami tindakan penganiayaan di wilayah Yahukimo. Foto: Tangkapan Layar Video.

Example 468x60

YAHUKIMO, Nemangkawipos.com – Situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kembali menjadi perhatian setelah kelompok yang menamakan diri TPNPB Kodap XVI Yahukimo mengeluarkan siaran pers yang mengklaim bertanggung jawab atas kematian tiga perempuan, masing-masing Juliana Jikwa, Antonia Nabyel, dan Merina Matuan, di kawasan Roku, Kota Dekai, Jumat (30/10/2026) sekitar pukul 09.00 WIT.

Klaim tersebut disampaikan melalui Siaran Pers Ke-IV Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal Jumat, 30 Oktober 2026, yang ditandatangani juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut ketiga perempuan itu sebagai agen intelijen militer Indonesia di Yahukimo. Namun, tuduhan tersebut belum dapat dipastikan dan memerlukan verifikasi dari pihak berwenang.

Dalam siaran pers itu, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyatakan telah menerima laporan dari Yabane Sonyap bersama pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Kompi Yemprenge, Batalyon Yallenang. Mereka mengklaim bahwa tindakan terhadap ketiga perempuan tersebut dilakukan oleh pasukan Kompi Yemprenge.

Baca Juga :

Kelompok tersebut juga meminta aparat militer Indonesia tidak menyalahkan masyarakat sipil yang tidak mengetahui kejadian tersebut.

Dalam pernyataan yang sama, TPNPB mengaitkan kejadian tersebut dengan kematian seorang anggota mereka bernama Tirinus Keroman yang disebut tewas akibat tindakan aparat militer Indonesia.

Kelompok itu mengancam akan melakukan pembalasan dengan menargetkan sepuluh nyawa aparat dan orang-orang yang mereka tuduh sebagai agen intelijen militer Indonesia yang memasuki wilayah konflik di Yahukimo.

Selain itu, TPNPB mengeluarkan peringatan kepada para guru, suster, aparatur sipil negara (ASN), serta warga pendatang dari Indonesia agar menghentikan aktivitas di seluruh wilayah Yahukimo. Mereka mengancam akan melakukan pembunuhan terhadap warga pendatang yang ditemukan dalam operasi kelompok tersebut dengan tuduhan sebagai bagian dari aparat atau jaringan intelijen pemerintah Indonesia.

Pernyataan tersebut merupakan ancaman yang ditujukan kepada masyarakat sipil dan berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga di wilayah tersebut.

Yabane Sonyap, sebagaimana dikutip dalam siaran pers, juga menyampaikan bahwa pasukan Kompi Yemprenge dan Batalyon Yallenang disebut akan terus melakukan operasi di Kota Dekai, baik siang maupun malam. Kelompok itu meminta seluruh aktivitas masyarakat sipil dihentikan.

Lebih lanjut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah serius menyelesaikan akar persoalan konflik dan politik antara masyarakat Papua dan pemerintah Indonesia.

Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut konflik bersenjata akan terus berlangsung dan berpotensi menimbulkan korban apabila tidak ada penyelesaian terhadap persoalan mendasar di Tanah Papua.

Mereka juga mendesak pemerintah Indonesia membuka ruang perundingan dengan pihak Papua yang diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau negara-negara anggota PBB sebagai upaya mencari penyelesaian konflik.

Di tengah beredarnya siaran pers tersebut, sebuah video berdurasi sekitar 1 menit 14 detik dilaporkan tersebar luas melalui sejumlah grup WhatsApp pada Jumat (30/10/2026).

Rekaman yang beredar itu disebut memperlihatkan kondisi sejumlah orang yang mengalami tindakan kekerasan dan dugaan penganiayaan. Namun, identitas orang-orang dalam video, lokasi perekaman, waktu kejadian, serta keterkaitannya dengan peristiwa yang diklaim TPNPB belum dapat dipastikan secara independen.

Karena itu, diperlukan verifikasi lebih lanjut dari aparat penegak hukum dan pihak terkait untuk memastikan keaslian rekaman serta konteks peristiwa yang ditampilkan. Masyarakat juga diimbau tidak menyebarkan video kekerasan tersebut secara sembarangan, terutama apabila dapat memperburuk situasi atau melukai keluarga korban.

Siaran Pers Ke-IV Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tersebut disampaikan oleh Sebby Sambom selaku juru bicara TPNPB-OPM.

Dokumen itu turut mencantumkan nama Jenderal Goliath Tabuni sebagai Panglima Tinggi TPNPB-OPM, Letnan Jenderal Melkisedek Awom sebagai Wakil Panglima, Mayor Jenderal Terianus Satto sebagai Kepala Staf Umum, serta Mayor Jenderal Lekagak Telenggen sebagai Komandan Operasi Umum.

Hingga berita ini diterbitkan, klaim kelompok tersebut mengenai kematian tiga perempuan, tuduhan bahwa mereka merupakan agen intelijen, ancaman operasi lanjutan, serta isi video yang beredar masih memerlukan verifikasi dan konfirmasi dari aparat keamanan maupun pihak berwenang.

Keselamatan masyarakat sipil, termasuk warga lokal, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, tokoh agama, ASN, dan warga pendatang, menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya ancaman keamanan di wilayah Yahukimo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *