EkonomiMasyarakat

Mimika Kaya Secara Ekonomi, Mengapa Manfaat Pertumbuhan Belum Sepenuhnya Terasa di Rumah Tangga?

42
×

Mimika Kaya Secara Ekonomi, Mengapa Manfaat Pertumbuhan Belum Sepenuhnya Terasa di Rumah Tangga?

Sebarkan artikel ini

Kajian PHTI 2020–2024: PDRB per Kapita Riil Naik 69,27 Persen, tetapi Daya Beli dan Pengurangan Kemiskinan Bergerak Terbatas

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Kabupaten Mimika memiliki kapasitas ekonomi yang besar. Namun, besarnya aktivitas ekonomi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Gambaran tersebut terlihat dalam kajian komparatif Prosperity-to-Human Development Transmission Index (PHTI) periode 2020–2024 yang membandingkan Kabupaten Mimika dengan Teluk Bintuni dan Morowali.

PHTI dalam kajian ini tidak digunakan untuk menentukan daerah mana yang paling sejahtera. Indeks tersebut digunakan sebagai alat diagnosis untuk melihat seberapa efektif peningkatan kapasitas ekonomi diteruskan menjadi kemajuan pembangunan manusia, peningkatan daya beli rumah tangga, pengurangan kemiskinan, dan perbaikan pasar kerja.

Baca Juga :

Hasil kajian menempatkan Mimika dengan skor PHTI 17,12, sementara Teluk Bintuni 88,19 dan Morowali 30,48. Angka tersebut harus dibaca secara hati-hati. Skor PHTI merupakan skor relatif dalam kelompok tiga daerah yang menjadi pembanding, bukan persentase efisiensi ekonomi dan bukan indikator resmi kesejahteraan BPS.

PDRB per Kapita Naik 69,27 Persen, Daya Beli Hampir Stagnan

Salah satu temuan paling penting adalah perubahan PDRB per kapita riil Mimika yang mencapai 69,27 persen selama periode kajian. Namun, kenaikan kapasitas ekonomi tersebut tidak diikuti peningkatan indikator rumah tangga dalam besaran yang sama.

Dalam periode yang sama, IPM Mimika hanya meningkat 2,66 poin, sedangkan pengeluaran riil per kapita tumbuh sekitar 0,38 persen setelah memperhitungkan faktor harga.

Kemiskinan juga berubah relatif terbatas, dari 14,26 persen menjadi 14,18 persen pada endpoint periode kajian. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Mimika turun dari 7,80 persen menjadi 6,70 persen.

Data tersebut memperlihatkan adanya persoalan yang perlu diperhatikan: kapasitas ekonomi meningkat jauh lebih cepat dibandingkan indikator yang menggambarkan kondisi ekonomi rumah tangga.

Artinya, persoalan utama Mimika bukan semata-mata bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut diteruskan menjadi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dibandingkan Teluk Bintuni dan Morowali

Perbandingan dengan Teluk Bintuni dan Morowali semakin memperjelas persoalan transmisi tersebut.

Teluk Bintuni mencatat pertumbuhan PDRB per kapita riil sekitar 29,90 persen. Pada saat yang sama, pengeluaran riil per kapita meningkat 3,28 persen dan kemiskinan turun sekitar 8,17 persen.

Morowali mencatat pertumbuhan PDRB per kapita riil yang jauh lebih tinggi, yakni sekitar 107,58 persen. Pertumbuhan tersebut disertai peningkatan pengeluaran riil per kapita sebesar 27,97 persen dan penurunan kemiskinan sekitar 11,02 persen.

Sementara Mimika memiliki pertumbuhan PDRB per kapita riil sebesar 69,27 persen, tetapi pengeluaran riil per kapita hanya tumbuh sekitar 0,38 persen dan perubahan kemiskinannya relatif kecil.

Perbandingan ini tidak berarti bahwa pertumbuhan ekonomi secara otomatis menyebabkan penurunan kemiskinan atau peningkatan daya beli. Banyak faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat.

Namun, pola tersebut cukup untuk menjadi sinyal kebijakan bahwa hubungan antara aktivitas ekonomi skala besar dan manfaat ekonomi di tingkat rumah tangga perlu diperkuat.

Bukan Sekadar Mengejar Pertumbuhan

Temuan tersebut membawa konsekuensi penting bagi arah pembangunan Mimika.
Ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya melihat seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi atau seberapa besar PDRB per kapita.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:
1. Apakah pertumbuhan tersebut menciptakan pekerjaan bagi masyarakat lokal?
2. Apakah pendapatan riil rumah tangga meningkat?
3. Apakah UMKM lokal masuk ke rantai pasok ekonomi besar?
4. Apakah kemiskinan berkurang secara konsisten?
5. Apakah kualitas pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih dan layanan dasar meningkat?

Dengan perspektif tersebut, pembangunan Mimika perlu bergerak dari paradigma growth-centered development menuju transmission-centered development.

Bukan hanya bertanya:
“Berapa besar ekonomi Mimika tumbuh?” Tetapi juga: “Ke mana manfaat pertumbuhan tersebut mengalir?”

Lima Agenda Memperkuat Transmisi Kemakmuran

Kajian tersebut menawarkan sedikitnya lima agenda yang dapat menjadi bahan pertimbangan kebijakan.

Pertama, memperkuat keterkaitan ekonomi lokal.

Pemerintah perlu mendorong local procurement, memperbesar keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri besar, serta mengembangkan sektor ekonomi non-sumber daya yang memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja.

Kedua, memperkuat tenaga kerja lokal.

Pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, apprenticeship dan pemetaan kebutuhan tenaga kerja perlu dikembangkan berdasarkan kebutuhan riil dunia usaha dan industri.

Ketiga, menjadikan kemiskinan dan daya beli sebagai indikator utama.

Pertumbuhan ekonomi perlu dievaluasi bersama indikator kemiskinan, pengeluaran riil per kapita, TPT, serta kondisi kelompok masyarakat berpendapatan terbawah.

Keempat, mengubah kapasitas ekonomi menjadi modal manusia.

Investasi pada pendidikan, kesehatan, gizi, air bersih, sanitasi, perumahan, dan konektivitas pelayanan dasar harus menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.

Kelima, membangun Mimika Prosperity Transmission Dashboard.

Dashboard lintas-OPD dapat digunakan untuk memantau hubungan antara kapasitas ekonomi, pendapatan dan daya beli rumah tangga, pasar kerja, UMKM, pelayanan publik, serta pembangunan manusia.

Dengan demikian, pemerintah tidak hanya mengetahui berapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga dapat memantau seberapa besar pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi kesejahteraan.

PDRB Per Kapita Bukan Pendapatan Setiap Orang

Ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi. PDRB per kapita tidak sama dengan pendapatan yang diterima setiap penduduk.

Daerah dengan aktivitas pertambangan atau industri berskala besar dapat memiliki PDRB per kapita yang tinggi karena nilai produksi yang tercipta di wilayah tersebut. Namun, angka tersebut tidak berarti setiap rumah tangga menerima pendapatan sebesar nilai PDRB per kapita.

Karena itu, tingginya PDRB per kapita tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan dalam proporsi yang sama.
Justru di sinilah persoalan transmisi menjadi penting.

Mimika perlu memastikan bahwa aktivitas ekonomi berskala besar memiliki keterhubungan yang semakin kuat dengan tenaga kerja lokal, UMKM, pendapatan rumah tangga, pelayanan dasar dan ekonomi kampung.

Dari Kekayaan Ekonomi Menuju Kesejahteraan

Kajian PHTI 2020–2024 pada akhirnya menghadirkan satu pertanyaan besar bagi arah pembangunan Mimika: Jika kapasitas ekonomi Mimika sudah sangat besar, mengapa peningkatan daya beli masyarakat dan pengurangan kemiskinan belum bergerak sebanding?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi gagal. Sebaliknya, pertanyaan itu menjadi dasar untuk melihat bagaimana kualitas transmisi pertumbuhan dapat diperbaiki.

Mimika sudah memiliki kapasitas ekonomi.
Tantangan berikutnya adalah membangun jembatan transmisi agar kapasitas tersebut lebih kuat mengalir menjadi pekerjaan, pendapatan rumah tangga, penguatan UMKM, pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas manusia dan pelayanan dasar.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaan ekonomi yang tercipta, tetapi juga oleh seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.

Mimika tidak kekurangan mesin ekonomi. Tantangan berikutnya adalah memastikan mesin tersebut bekerja lebih kuat untuk kesejahteraan masyarakat.

PHTI/MPHTI dalam kajian ini merupakan indeks komposit untuk analisis komparatif, bukan indikator resmi BPS. Skornya bersifat relatif terhadap tiga daerah dalam kajian dan tidak dapat dibaca sebagai persentase efisiensi absolut. Hasil kajian bersifat deskriptif-komparatif dan tidak dimaksudkan sebagai bukti hubungan sebab-akibat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *