Pemerintahan

SMK Negeri 1 Mimika Dorong Siswa OAP Jadi Pengusaha Lewat Teaching Factory

3
×

SMK Negeri 1 Mimika Dorong Siswa OAP Jadi Pengusaha Lewat Teaching Factory

Sebarkan artikel ini

Capt: Siswa SMK Negeri 1 Mimika mengikuti praktik Teaching Factory (Tefa) bidang pengelasan (welding) sebagai bagian dari pembelajaran berbasis dunia kerja sekaligus melatih keterampilan dan jiwa kewirausahaan siswa, khususnya siswa OAP. Foto: Nemangkawipos

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – SMK Negeri 1 Mimika terus mendorong peserta didik untuk tidak hanya menguasai teori di dalam kelas, tetapi juga memiliki keterampilan kerja dan jiwa kewirausahaan melalui program Teaching Factory (Tefa).

Kepala SMK Negeri 1 Mimika, Drs. Selsius E. Aron, M.Pd, mengatakan Teaching Factory merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan praktik nyata sesuai kompetensi keahlian siswa.

Melalui konsep learning by doing, siswa tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga diperkenalkan dengan proses bisnis secara langsung, mulai dari membaca kebutuhan pasar, memproduksi barang atau jasa, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual hingga memasarkannya.

Baca Juga :

“Dalam Tefa, siswa diajarkan untuk tajam melihat animo dan kebutuhan pasar masyarakat sekitar, bagaimana mengelola dan menghasilkan produk barang atau jasa, serta bagaimana memasarkan barang dan jasa yang mereka hasilkan,” ujar Selsius kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).

Salah satu program Tefa yang telah berjalan di SMK Negeri 1 Mimika adalah bidang pengelasan (welding).

Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar. Setiap minggu mereka melakukan praktik di bengkel sekolah sekaligus mengerjakan berbagai produk pengelasan berdasarkan pesanan yang diterima.

Dengan demikian, siswa tidak hanya berlatih menggunakan peralatan dan teknik pengelasan, tetapi juga mendapatkan pengalaman menghadapi pekerjaan yang memiliki kebutuhan dan standar tertentu.

Model pembelajaran tersebut diharapkan membuat siswa memahami bahwa keterampilan yang mereka pelajari di sekolah dapat memiliki nilai ekonomi ketika diterapkan dalam dunia nyata.

Menurut Selsius, program Tefa memiliki manfaat besar, khususnya bagi siswa Orang Asli Papua (OAP).

Melalui pembelajaran berbasis produksi, siswa dilatih melihat peluang usaha di lingkungan sekitar, mengerjakan produk sesuai kebutuhan konsumen, hingga menghitung keuntungan dari sebuah proses produksi.

“Pembelajaran Tefa ini lebih banyak ditekankan pada keaktifan siswa, khususnya siswa OAP di jurusan pengelasan, agar mereka dapat memanfaatkan model pembelajaran ini secara optimal,” jelasnya.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan di SMK.

Selsius ingin agar ke depan semakin banyak anak muda Papua yang mampu menjadi pengusaha, produsen dan tenaga profesional, bukan hanya menjadi konsumen dari berbagai produk yang dihasilkan pihak lain.

“Harapannya, orang Papua juga bisa menjadi pengusaha atau produsen yang handal, tidak hanya sebagai konsumen dari tahun ke tahun atas produk-produk orang lain,” tegasnya.

Menurut Selsius, keunggulan Tefa terletak pada pengalaman langsung yang diperoleh siswa.

Mereka belajar bahwa sebuah produk tidak berhenti pada proses pembuatan. Ada tahapan lain yang harus dipahami, seperti menghitung kebutuhan bahan, biaya produksi, harga jual, pemasaran hingga keuntungan. Pola tersebut sekaligus menanamkan pola pikir kewirausahaan sejak bangku sekolah.

“Anak-anak bukan hanya belajar membuat barang, tetapi juga belajar bagaimana melihat peluang, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual dan mengetahui berapa laba yang bisa diperoleh,” katanya.

Pengembangan pembelajaran Tefa di SMK Negeri 1 Mimika tersebut mendapat dukungan melalui Dana BOSDA Provinsi Papua Tengah Tahap I.

Selsius berpesan kepada seluruh siswa agar memanfaatkan waktu belajar dengan baik dan terus meningkatkan keterampilan.

Ia juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), khususnya dalam praktik pengelasan yang memiliki risiko tinggi.

Siswa diminta bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) agar setiap produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik dan bernilai ekonomis.

“Para siswa harus memanfaatkan waktu belajar dengan baik, memperhatikan aspek safety dan bekerja sesuai SOP agar dapat menghasilkan barang yang bermutu dan bernilai ekonomis,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh melalui Teaching Factory dapat menjadi bekal berharga bagi siswa ketika nantinya memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.

Dari bengkel sekolah, siswa SMK Negeri 1 Mimika tidak hanya belajar mengelas besi, tetapi juga sedang belajar membangun masa depan—menjadi tenaga terampil, pencipta lapangan kerja, sekaligus calon pengusaha muda Papua.

Penulis: StendiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *