Masyarakat

Enam Bulan Dilanda Kekeringan, Warga Distrik Hoya Mimika Keluhkan Krisis Pangan dan Sulitnya Transportasi

242
×

Enam Bulan Dilanda Kekeringan, Warga Distrik Hoya Mimika Keluhkan Krisis Pangan dan Sulitnya Transportasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Selama kurang lebih enam bulan menghadapi musim kekeringan berkepanjangan, masyarakat Distrik Hoya, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kini mengeluhkan sulitnya memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sumber mata air mulai mengering, tanaman dan kebun warga mengalami kerusakan, sementara akses transportasi yang terbatas semakin menyulitkan masyarakat mendapatkan bahan makanan pokok.

Kondisi tersebut disampaikan Anton Ogolmagai yang mewakili masyarakat Distrik Hoya kepada Nemangkawipos.com, Selasa (3/11/2026). Ia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika, PT Freeport Indonesia, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), Dinas Sosial, serta Dinas Koperasi dan UMKM memberikan perhatian serius terhadap kesulitan yang sedang dialami warga.

Anton menjelaskan, kekeringan yang berlangsung sekitar enam bulan terakhir telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan warga mulai mengering, sedangkan tanaman dan kebun masyarakat mengalami kerusakan sehingga hasil pertanian tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Baca Juga :

“Sudah kurang lebih enam bulan masyarakat kami mengalami musim kekeringan berkepanjangan. Sumber mata air mulai mengering, tanaman dan kebun masyarakat mengalami kerusakan sehingga hasil kebun tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga,” ungkap Anton.

Selain persoalan kekeringan, keterbatasan transportasi menuju Distrik Hoya juga menjadi kendala serius. Bahkan, menurut Anton, sarana transportasi menuju wilayah tersebut sering kali tidak tersedia.

Akibatnya, masyarakat semakin kesulitan memperoleh kebutuhan sehari-hari, terutama bahan makanan pokok. Kondisi ini membuat warga membutuhkan perhatian dan dukungan segera agar kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi.

Atas situasi tersebut, Anton menyampaikan harapan agar suara masyarakat Distrik Hoya dapat didengar langsung oleh Bupati Mimika dan seluruh pihak terkait, termasuk PT Freeport Indonesia, YPMAK, Dinas Sosial, serta Dinas Koperasi dan UMKM.

Ia meminta pemerintah dan pihak terkait tidak hanya memberikan perhatian, tetapi juga turun langsung melihat kondisi masyarakat di lapangan sekaligus mengambil langkah nyata untuk membantu warga yang sedang menghadapi kesulitan pangan.

“Kami sangat berharap suara masyarakat Distrik Hoya dapat didengar oleh Pemerintah Kabupaten Mimika, Bapak Bupati Mimika, PT Freeport Indonesia, YPMAK, Dinas Sosial, dan Dinas Koperasi dan UMKM. Kami berharap mereka dapat membantu turun langsung melihat kondisi masyarakat serta mempublikasikan keadaan yang sedang kami alami,” ujarnya.

Anton menegaskan, masyarakat Distrik Hoya saat ini membutuhkan lebih dari sekadar perhatian. Warga sangat mengharapkan tindakan nyata dan bantuan segera untuk menghadapi dampak kekeringan serta keterbatasan akses transportasi yang telah berlangsung berbulan-bulan.

“Kami bukan hanya membutuhkan perhatian, tetapi juga tindakan nyata dan bantuan segera bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan pangan,” tegasnya.

Melalui penyampaian tersebut, Anton berharap Pemerintah Kabupaten Mimika bersama seluruh pihak terkait dapat segera merespons keluhan masyarakat Distrik Hoya, melakukan peninjauan langsung, serta menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan warga yang terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *