Olahraga

Sinar Bintang Flag Football asal Papua: Akankah Wrestle Mansawan Jadi Pilar Utama Timnas Indonesia di LA 2028?

32
×

Sinar Bintang Flag Football asal Papua: Akankah Wrestle Mansawan Jadi Pilar Utama Timnas Indonesia di LA 2028?

Sebarkan artikel ini

Foto saat Wrestle Mansawan mengejar quarterback lawan, mencegah mereka melempar bola, dan menarik bendera (flag) sebelum terjadi operan pada Zhenkai cup Ningbo Flag Football 2026.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Dari hembusan angin di Tiongkok hingga membumbungnya mimpi menuju Los Angeles, nama Wrestle Mansawan perlahan mulai mencuri perhatian di kancah Flag Football internasional. Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah tentang kehilangan, ketekunan, dan keberanian mengejar mimpi yang tumbuh dari tanah Papua.

Wrestle, 26 tahun, bukan atlet yang lahir dari lingkungan olahraga mapan. Sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan Pangansari. Namun, di sela rutinitasnya, ia menekuni Flag Football—cabang olahraga yang masih asing bagi banyak orang di Indonesia. Ia menjadi satu dari sedikit putra Papua yang berkesempatan mengenal, mempelajari, dan mengharumkan nama daerahnya melalui olahraga tersebut.

Sore itu, di beranda depan rumahnya, Wrestle menyambutku dengan senyum hangat sembari menggenggam sebuah flag belt, seolah mengajakku merasakan langsung olahraga yang telah mengubah jalan hidupnya. Percakapan kami mengalir pelan, dibuka oleh kisah yang membawaku mundur 16 tahun silam, ketika ia harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan sang ayah untuk selamanya.

Baca Juga :

Sejenak suasana menjadi hening. Senja perlahan merunduk di ufuk barat, sementara angin sesekali mengusap hamparan sawi, buncis, dan cabai yang tumbuh subur di halaman rumahnya. Di antara hijaunya kebun sederhana itu, Wrestle menuturkan perjalanan hidupnya tentang kehilangan yang membentuknya, perjuangan yang menempanya, dan mimpi yang kini membawanya melangkah semakin dekat menuju panggung dunia.

Bagaimana perjalanan Wrestle sampai bisa jadi atlet Flag Football? Tanyaku memecahkan keheningan. “Sebelumnya Saya pernah kuliah di Bali, bahkan sampai training di Miami USA tapi tidak sampai selesai karena “Eral Kama”. (Bahasa Amungme artinya tidak ada Biaya/uang) Ujarnya dengan tatapan kosong.

Setelah langkahnya di bangku kuliah terhenti sebelum mencapai garis akhir, ia akhirnya pulang ke Timika meniti jalan terjal kehidupan, mengetuk satu demi satu pintu harapan demi menemukan pekerjaan yang dapat menghidupi keluarga.

Foto Saat Fiji Curry Bombers menerima trofi penghargaan Juara 3 Zhenkai Cup Ningbo Flag Football 2026 yang diselenggarakan di China, (7/06/2026)

Berat yaa menapaki jalan menuju dunia kerja di Timika, Wrestle? Tanyaku sambil mengangkat kening. “Setelah balik, saya pernah kerja di kedai Ice cream tahun 2022, karena ada pengalaman perhotelan saya pernah diterima kerja di hotel tahun 2023, setelah itu diterima kerja di Pangansari, aduuu hidup ini random sekali” Ujarnya sambil menggelengkan kepala.

“Memang betul yaa hidup ini random sekali, setiap kesempatan didepan kita sikat saja” ujarku padanya sambilan tersenyum.
“Iyah pokoknya sikat saja dulu, saya juga bisa diterima di perusahaan karena bakat olahraga.” Jawabnya

Sejak bergabung sebagai karyawan Pangansari, hari-hari Wrestle tak hanya diisi oleh rutinitas pekerjaan. Begitu jam kerja usai, langkahnya hampir selalu mengarah ke Lapangan Olahraga Kuala Kencana. Di sanalah ia meluangkan waktu untuk merawat hobinya. Jauh sebelum mengenal Flag Football, lapangan itu lebih dulu menjadi saksi bagaimana ia berlari mengejar piringan terbang dalam olahraga Ultimate Frisbee. Keringat yang menetes setiap sore perlahan membentuk fondasi fisik, disiplin, dan naluri kompetitif yang kelak mengantarkannya ke cabang olahraga yang mengubah jalan hidupnya.

Perjalanan Wrestle di dunia Flag Football bermula pada 2024. Saat itu, seorang karyawan Corporate Communication PTFI bernama Joe mengenalkannya pada olahraga yang masih asing di telinganya. Pertemuan sederhana itu menjadi titik balik yang mengubah arah langkahnya. Tanpa banyak ragu, Wrestle bergabung dengan Papua Black Pearls, tim yang baru terbentuk bersamaan dengan mulai berkembangnya Flag Football di Timika. Bersama rekan-rekan setimnya, ia menjalani latihan demi latihan, mempelajari aturan permainan yang belum pernah ia kenal sebelumnya, hingga akhirnya mendapat kesempatan menjalani debut pada Turnamen Merdeka Bowl 2024.

Debut itu belum berbuah manis. Di antara 16 tim dari berbagai daerah di Indonesia, Papua Black Pearls harus puas mengakhiri turnamen di peringkat ke-13. Namun, bagi Wrestle, hasil tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Justru dari kekalahan itulah ia dan timnya memetik pelajaran berharga, menjadikannya pijakan untuk terus berbenah, mengasah kemampuan, dan menatap turnamen-turnamen berikutnya dengan keyakinan yang lebih besar.

Hasil debut itu menjadi batu pijakan yang menempa langkah Wrestle dan timnya. Setiap kemenangan maupun kekalahan mereka rajut menjadi bekal berharga untuk mengasah kemampuan, memperkuat kekompakan, dan menyiapkan diri menyongsong pertarungan berikutnya dengan semangat yang lebih matang. Papua Black Pearls kembali menjalani debut kedua pada Merdeka Bowl tahun 2025 dengan memastikan naik ke peringkat 9 se-Indonesia.

Setelah turnamen tahunan, Wrestle ada bertanding lagi?.Iyah, jadi setelah Merdeka Bowl, saya direkomendasikan memperkuat salah satu tim dari Amerika Serikat untuk bermain di Thailand. Terus menang atau tidak? “waduh, kita kalah karena kurang persiapan, ah tapi kita menang saat main di China bersama fiji Bombers.”

Wah luar biasa, Terus Bagaimana Wrestle bisa bermain bersama Fiji Curry Bombers? Tanyaku sambil mengerutkan kening. “Waktu sesi pelatihan saat Apex Camp di Jakarta saya dilihat oleh pelatih Timnas jadi saya direkomendasikan kepada pemilik Klub Fiji Curry Bombers.” Ujarnya sambil melambaikan tangannya.

China nyaris menjadi tempat Wrestle menggenggam mimpi yang telah lama ia kejar. Bersama Fiji Curry Bombers, ia melangkah mantap hingga babak semifinal Zhenkai Cup. Aroma gelar juara sudah terasa begitu dekat, seolah tinggal selangkah lagi untuk diraih. Namun, takdir memiliki cerita yang berbeda. Langkah mereka terhenti setelah dikalahkan Croydon Rangers Gridiron Club asal Australia.
Kekalahan itu sempat menyisakan sunyi. Di balik sorak-sorai yang mereda, ada kekecewaan yang sulit diucapkan. Tetapi Wrestle memilih untuk tidak larut. Ia percaya, terkadang mimpi tidak datang melalui pintu yang kita harapkan, melainkan melalui jalan yang lebih berliku.

Kesempatan terakhir itu pun datang pada perebutan tempat ketiga. Dengan semangat yang tak padam, Fiji Curry Bombers bangkit dan menumbangkan Apex Jet Force asal Amerika Serikat. Medali perunggu memang bukan mahkota juara, tetapi bagi Wrestle, kemenangan itu adalah penegasan bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati usaha.

Dari podium ketiga itulah sebuah pintu baru terbuka. Hasil tersebut mengantarkan Wrestle mengamankan satu kuota untuk mengikuti seleksi Tim Nasional Flag Football Indonesia menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Ia mungkin belum pulang sebagai juara turnamen, tetapi ia pulang membawa harapan yang jauh lebih besar. Sebab, terkadang Tuhan tidak memberikan akhir yang kita inginkan, melainkan awal dari perjalanan yang lebih bermakna.

Kenapa pengen masuk ke Timnas?.“Saya mau buktikan bahwa anak Papua juga bisa soalnya di satu tim itu tidak ada yang hitam jadi” sambil tersenyum.

Punya ambisi besar yaa untuk cabang olahraga ini? Tanyaku sambil menatap matanya. “Saya mau jadi anak Papua pertama yang masuk timnas, saya pengen punya pencapaian dalam hidup” jawab pria berposisi Rusher itu sambil tersenyum.

Kendati demikian, Wrestle bukan tipe orang yang membiarkan keadaan menentukan akhir ceritanya. Sebagai seorang rusher, ia tak hanya mengandalkan sesi latihan bersama tim. Di sela kesibukannya bekerja, ia menyempatkan diri berlatih secara mandiri, bahkan belajar secara otodidak dengan menyaksikan berbagai video teknik Flag Football di media sosial.

Di sisi dalam pergelangan tangan kirinya, diabadikan sebuah kutipan yang selalu ia jadikan pengingat: “With great power comes great responsibility.” Kalimat yang dipopulerkan Paman Ben dalam film Spider-Man itu bukan sekadar hiasan di kulit. Bagi Wrestle, kalimat tersebut adalah kompas yang menuntunnya untuk terus bertanggung jawab atas setiap kesempatan yang datang, bekerja lebih keras, dan mengejar pencapaian yang ingin ia ukir dalam perjalanan hidupnya.

Malam itu, perbincangan kami ditutup dengan secangkir kopi Arabika khas Papua. Aromanya lebih dulu menyerbu hidung, sementara tegukan pertamanya seolah “menampar” bibirku. Wrestle hanya tersenyum kecil melihat reaksiku. Di balik hangatnya secangkir kopi dan tawa singkat yang pecah malam itu, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan mimpi seorang anak Papua yang terus berlari mengejar masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *