Example floating
Example floating
Swasta

Stop Jadi Penonton! YPMAK “Cambuk” Kemandirian Kesehatan di Kampung-Kampung Melalui Program Kampung Sehat

57
×

Stop Jadi Penonton! YPMAK “Cambuk” Kemandirian Kesehatan di Kampung-Kampung Melalui Program Kampung Sehat

Sebarkan artikel ini

Caption : Program Kampung Sehat YPMAK memasuki babak baru! Tahun ini, petugas medis dari mitra pelaksana (Yayasan Ekologi, Papua Lestari, & Rumsram) tidak hanya datang bawa obat, tapi bawa misi besar: ​Lewat pelatihan bareng Yayasan Care Peduli (YCP), para bidan dan perawat kini jadi "Agen Perubahan" yang bertugas membangun kemandirian masyarakat di kampung-kampung.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) tidak ingin lagi melihat masyarakat di wilayah intervensi hanya menjadi objek penerima manfaat yang pasif. Melalui Program Kampung Sehat, pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia ini mulai melakukan pergeseran radikal: menuntut masyarakat menjadi motor penggerak kesehatan mereka sendiri.

​Tindakan nyata ini diwujudkan melalui pelatihan intensif ‘Community Participation’ (Partisipasi Masyarakat) yang digelar di Ballroom Swiss-Belinn Timika, 28–30 Januari 2026. Bekerja sama dengan Yayasan Care Peduli (YCP), YPMAK membekali petugas medis dari tiga yayasan mitra (Ekologi Papua, Papua Lestari, dan RUMSRAM) agar tidak hanya jago memegang suntik, tapi juga lihai menggerakkan massa.

Baca Juga :
​Project Manager YCP, Tengku Rodhan, menegaskan bahwa pola pikir masyarakat harus dirombak. Membangun kampung sehat mustahil terwujud jika hanya mengandalkan layanan pengobatan gratis tanpa ada perubahan perilaku di akar rumput.

“Membangun kampung sehat tidak cukup hanya dengan memberikan layanan pengobatan. Potensi-potensi kampung harus diarahkan menuju kemandirian. Kita ingin ada perubahan perilaku, bukan sekadar datang mengobati,” tegas Tengku di sela-sela kegiatan.

YPMAK mematok target ambisius: tahun depan, kampung-kampung di wilayah intervensi harus sudah menunjukkan level kemandirian yang lebih baik. Masyarakat dituntut paham isu kesehatan, sadar pola hidup bersih, dan tahu ke mana harus melangkah saat sakit, bukan lagi menunggu “bola” datang ke pintu rumah.

Selama tiga hari, bidan dan perawat yang biasanya fokus pada klinis kini dididik menggunakan metode Participatory Learning and Action (PLA). Mereka kini memiliki tugas tambahan sebagai intelijen sosial yang harus memetakan potensi kampung dan mencari sosok pemimpin lokal yang bisa dijadikan agen perubahan.

Fokus tahun kedua Program Kampung Sehat ini sangat tajam: Perubahan Perilaku. Hal ini dilakukan setelah hasil evaluasi tahun pertama menunjukkan partisipasi masyarakat yang masih loyo dan belum signifikan.

​“Masyarakat tidak boleh lagi jadi objek. Mereka harus jadi subjek, jadi motor penggerak,” tambah Tengku. YPMAK tidak akan selamanya “menyuapi” kampung yang sama. Pada akhir tahun nanti, evaluasi ketat akan dilakukan. Kampung yang dinilai sukses mencapai kriteria mandiri kesehatan akan dijadikan pilot project (percontohan), sementara petugas medis akan ditarik dan dialihkan ke wilayah lain yang masih tertinggal.

​Langkah ini mengirimkan pesan kuat bagi aparat kampung, tokoh agama, dan pemuda di wilayah intervensi: Kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Jika masyarakat tidak mau bergerak untuk berubah, maka akses pelayanan yang sudah dibuka lebar oleh Dana Kemitraan Freeport ini akan menjadi sia-sia.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *