Example floating
Example floating
Masyarakat

Selamat Jalan, Sang Pembawa Senyum dari Utikini: Mengenang Kepergian Alexsander Omaleng

3
×

Selamat Jalan, Sang Pembawa Senyum dari Utikini: Mengenang Kepergian Alexsander Omaleng

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Kabar duka yang menyayat hati menyelimuti Tanah Amungsa dan Mimika hari ini. Rabu, 25 Februari 2026, sosok muda yang dikenal enerjik dan penuh kasih, Alexsander Omaleng, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta. Kepergiannya yang mendadak menyisakan ruang hampa yang dalam, tidak hanya bagi keluarga besar Omaleng, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang pernah tersentuh oleh kebaikannya.

Lahir di Utikini pada 17 Januari 1992, Alex adalah putra sulung dari pasangan mantan Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, dan almarhumah Nela Beanal. Sejak belia, ia memikul tanggung jawab besar sebagai harapan keluarga. Namun, di balik nama besar orang tuanya, Alex tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan rendah hati.

Baca Juga :

Bagi siapa pun yang pernah menjabat tangannya, satu hal yang tak akan pernah terlupakan adalah senyumnya. Ia adalah sosok yang tak pernah membedakan kasta; murah senyum, ramah, dan selalu punya waktu untuk mendengarkan keluh kesah sesamanya.

Dunia organisasi dan politik Mimika kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dari KONI, KNPI, hingga Partai Golkar, Alex selalu hadir sebagai penggerak. Puncak dari kecintaannya pada tanah kelahiran ia buktikan pada Pilbup Mimika 2024. Saat itu, ia maju sebagai Calon Bupati nomor urut 03 bersama Yusuf Rombe.

​Bukan sekadar ambisi kekuasaan, Alex membawa mimpi sederhana namun menyentuh akar rumput:

1. Ia bermimpi melihat anak-anak Mimika sekolah dengan angkutan umum gratis.
2. Ia ingin tiap rumah di pelosok mengecap air bersih.
3. Ia mendambakan layanan kesehatan on-call 24 jam agar tak ada lagi warga yang terlambat tertolong.

​”Ia ingin membangun negerinya sendiri dengan tangan anak muda,” kenang salah seorang kerabat dekatnya dengan nada lirih.

​Kini, deretan ucapan belasungkawa membanjiri lini masa media sosial. Foto-foto Alex yang sedang tertawa, merangkul pemuda, dan menyapa warga menjadi saksi bisu bahwa ia telah menanam benih kasih yang luas.

Kepergian Alexsander Omaleng adalah kehilangan besar bagi regenerasi kepemimpinan di Papua Tengah. Ia pergi di usia yang masih sangat produktif, meninggalkan cita-cita “Kartu Mimika Pintar” dan mimpi-mimpi besar lainnya yang kini tertitipkan di pundak generasi muda yang ditinggalkannya.

Penulis: StendyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *