TIMIKA, Nemangkawipos.com – Kabupaten Mimika tengah bersiap memasuki bulan yang sakral bagi dua komunitas iman terbesar di wilayah ini. Dalam waktu yang hampir bersamaan, umat Muslim akan menunaikan ibadah puasa Ramadan, sementara umat Katolik dan Kristen memasuki masa Pra-Paskah serta prosesi Jalan Salib.
Menyikapi momentum spiritual yang beriringan ini, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Primus Natikapereyau, melayangkan seruan penting mengenai penguatan tenun kebangsaan dan stabilitas keamanan daerah.
Dalam keterangannya kepada nemangkawipos.com, pada Rabu (18/2/2026), Primus menekankan bahwa perbedaan jadwal ibadah bukanlah sekat, melainkan ujian bagi kedewasaan toleransi warga Mimika. Ia berharap ritual tahunan ini menjadi katalisator untuk mempererat tali silaturahmi yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial di tanah Amungsa dan bumo Kamoro.
”Kita berada di ambang dua momentum besar. Saya menghimbau seluruh warga Kabupaten Mimika untuk tetap menjaga situasi agar tetap kondusif. Biarkan toleransi tumbuh secara alami sebagaimana sedia kala. Saling menghormati adalah kunci agar setiap pemeluk agama bisa menjalankan tugas spiritualnya dengan khusyuk,” ujar Primus.
Lebih lanjut, Primus menyoroti pentingnya jaminan keamanan dari pagi hingga malam hari. Menurutnya, dinamika aktivitas warga akan meningkat, mulai dari shalat subuh berjamaah hingga prosesi peribadatan malam hari.
Ia meminta seluruh pihak, termasuk aparat keamanan dan kelompok masyarakat, untuk bahu-membahu memastikan tidak ada gangguan sekecil apa pun yang dapat mencederai kekhidmatan ibadah.
“Kita merindukan situasi di mana warga bisa beribadah dengan tenang. Yang Muslim menjalankan puasa dan shalat dengan aman, yang Kristiani menjalankan Jalan Salib dengan damai. Keamanan adalah tanggung jawab kolektif kita semua,” tegasnya.
Primus juga mengingatkan bahwa di tengah berbagai isu yang berkembang akhir-akhir ini, kekuatan komunikasi dan silaturahmi antar-tokoh agama harus diperkuat. Ia tidak ingin momentum suci ini dinodai oleh provokasi yang tidak bertanggung jawab.
Bagi DPRK Mimika, bulan Ramadan dan Pra-Paskah tahun 2026 ini harus menjadi potret bagi dunia luar bahwa Mimika adalah rumah besar yang aman bagi keberagaman.
”Mari kita tunjukkan bahwa di Mimika, perbedaan agama tidak menghalangi kita untuk saling menjaga. Petugas keamanan di lapangan juga diharapkan bisa bersinergi dengan baik, memastikan setiap sudut kota dan kampung tetap dalam kendali keamanan yang stabil,” pungkas Primus.
Dengan semangat kebersamaan ini, diharapkan Kabupaten Mimika dapat melewati bulan-bulan penuh berkah dan perenungan ini dengan damai, sekaligus memperkokoh posisi Mimika sebagai miniatur toleransi di tanah Papua.




