HUKRIM

Jangan Hanya Melihat Api, Lihat Juga Luka yang Mendahuluinya

3
×

Jangan Hanya Melihat Api, Lihat Juga Luka yang Mendahuluinya

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rani Yanti Ngabalin, M.I.Kom

Example 468x60

Belakangan ini, berbagai berita, narasi, video, dan foto yang beredar luas lebih banyak memperlihatkan rumah-rumah yang terbakar di Danar. Visual itu memang kuat—mudah menarik perhatian dan cepat membentuk opini publik. Namun yang jarang terlihat adalah luka-luka yang lebih dahulu hadir sebelum api itu menyala.

Yang tidak banyak diangkat adalah bagaimana beberapa warga dari pihak kami jatuh sebagai korban. Ada yang terkena panah, mengalami luka serius, dan hingga saat ini masih menunggu tindakan medis maksimal karena proses rujukan yang belum selesai. Ada tubuh yang masih menahan sakit. Ada keluarga yang berjaga dengan cemas. Ada tangis yang tidak pernah sempat direkam kamera.

Yang juga nyaris tenggelam dalam arus pemberitaan adalah kehilangan kami atas saudara kami, Aimar. Bagi kami, ia bukan sekadar nama dalam daftar korban. Ia adalah anak, saudara, keluarga—bagian dari kehidupan kampung ini. Kepergiannya meninggalkan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Baca Juga :

Bukan hanya karena ia meninggal, tetapi karena cara ia kehilangan nyawa menghadirkan duka yang begitu berat untuk diterima. Luka-luka yang terlihat pada tubuhnya menjadi saksi betapa tragis peristiwa itu terjadi. Ada sayatan di banyak bagian tubuh, ada luka tusukan berulang di bagian perut—sesuatu yang akan sulit dilupakan oleh siapa pun yang melihatnya.

Kami tidak menulis ini untuk membalas dengan kemarahan. Kami juga tidak meminta siapa pun membenci pihak lain. Kami hanya berharap publik memahami bahwa di balik narasi yang saat ini lebih ramai beredar, ada sisi lain yang juga layak dilihat dengan empati.

Rumah yang terbakar memang menyedihkan. Tetapi sebelum itu, ada tubuh yang terluka. Ada nyawa yang hilang. Ada keluarga yang lebih dulu hancur.

Dalam konflik seperti ini, jika yang dilihat hanya akibat akhir tanpa memahami luka yang mendahuluinya, maka opini akan selalu pincang. Kita akan mudah terbawa oleh apa yang tampak, tetapi lupa pada apa yang sebenarnya terjadi lebih dahulu.

Kami percaya bahwa setiap korban berhak dilihat sebagai manusia. Setiap luka berhak dipahami dengan adil. Dan setiap duka tidak boleh dipilih-pilih untuk mendapatkan perhatian.

Hari ini kami hanya meminta satu hal: lihatlah peristiwa ini secara utuh. Jangan biarkan sebagian kesedihan menjadi viral, sementara sebagian lainnya tenggelam tanpa suara.

Karena rasa sakit tidak selalu tampak dalam video yang beredar. Kadang ia tinggal dalam tubuh yang menahan panah, dalam keluarga yang menunggu kepastian di rumah sakit, dalam orang tua yang kehilangan anaknya, dan dalam kampung yang sedang berusaha memahami mengapa semuanya bisa terjadi.

Semoga semua yang telah terjadi menjadi pelajaran bahwa tidak ada luka yang pantas dipertandingkan, dan tidak ada nyawa yang boleh dianggap lebih kecil nilainya dari narasi apa pun.

Sebab pada akhirnya, di balik setiap konflik, yang paling membutuhkan tempat adalah kemanusiaan.

Penulis: StendyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *