DPR

Nasib Warga Jila di Mimika: Hidup Berdesakan di Satu Rumah hingga Pikul Hasil Tani Kilometeran

3
×

Nasib Warga Jila di Mimika: Hidup Berdesakan di Satu Rumah hingga Pikul Hasil Tani Kilometeran

Sebarkan artikel ini

Caption: Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPRK Mimika, Abrian Katagame, saat menyerap aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses. Foto: Stendy.

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Kondisi memprihatinkan dialami oleh masyarakat Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Akibat terkendala akses transportasi dan minimnya infrastruktur, warga terpaksa hidup berdesakan di rumah tidak layak huni, bahkan satu rumah dihuni oleh 3 hingga 4 Kepala Keluarga (KK).

​Fakta pilu ini terungkap saat Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPRK Mimika, Abrian Katagame, melakukan kegiatan reses menyerap aspirasi masyarakat Distrik Jila yang kini berdomisili di kawasan Sp5, Distrik Iwaka, Senin (13/7/2026).

​Abrian Katagame menegaskan bahwa masalah rumah layak huni telah menjadi sorotan utama setiap kali dirinya turun ke lapangan. Menurutnya, kondisi warga yang harus berbagi atap dengan 3-4 KK adalah potret darurat yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Baca Juga :

​”Faktanya di lapangan, satu rumah dihuni oleh 3-4 KK. Ini menjadi aspirasi yang selalu disorot. Masyarakat kita butuh perhatian serius terkait hunian,” ujar Abrian.

Tidak hanya masalah tempat tinggal, warga Distrik Jila yang masih berada di wilayah pegunungan juga terisolasi akibat minimnya infrastruktur jembatan. Akibatnya, akses antar-kampung menjadi sangat sulit, terutama saat musim banjir.

​Selain krisis hunian dan jembatan, sektor ekonomi masyarakat juga terhambat. Warga yang berprofesi sebagai petani harus menelan pil pahit ketika hendak menjual hasil panen mereka ke pasar. Tanpa akses kendaraan yang memadai, mereka terpaksa memikul hasil bumi dengan berjalan kaki sejauh berkilo-kilometer.

​”Masyarakat harus memikul hasil bertani berkilo-kilometer dengan jalan kaki. Kalau jembatan putus, masyarakat tidak bisa ke mana-mana. Saat mereka butuh layanan kesehatan di ibu kota distrik, mereka terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa,” jelas Abrian dengan nada prihatin.

​Abrian Katagame menegaskan bahwa reses ini bukanlah seremoni belaka. Ia menuntut agar aspirasi masyarakat Jila segera diintervensi oleh dinas terkait dengan solusi konkret, terutama dalam pembangunan jembatan permanen dan bantuan bedah rumah.

​”Kami berharap ini bukan sekadar formalitas. Kami akan sampaikan ke dinas terkait agar ini menjadi program prioritas untuk direncanakan pembangunannya tahun depan. Ini kebutuhan mendesak, bukan lagi keinginan,” pungkasnya.

Harapan besar kini tertumpu pada Pemerintah Kabupaten Mimika agar tidak lagi menutup mata terhadap potret kehidupan masyarakat Jila yang hingga kini masih berjuang melawan isolasi dan keterbatasan akses dasar.

Penulis: StendiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *