pemerintah kabupaten Mimika

Pemkab Mimika Evaluasi Pustu Mangkrak, Fokus Penuhi Kebutuhan Nakes

3
×

Pemkab Mimika Evaluasi Pustu Mangkrak, Fokus Penuhi Kebutuhan Nakes

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Pemerintah Kabupaten Mimika mulai mengambil langkah konkret terkait banyaknya Puskesmas Pembantu (Pustu) yang belum beroperasi optimal meski pembangunan fisiknya telah rampung sejak beberapa tahun terakhir.

Penataan ulang fasilitas kesehatan tersebut kini menjadi prioritas pemerintah daerah agar pelayanan kesehatan dasar dapat benar-benar dirasakan masyarakat di wilayah pedalaman dan pesisir.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengakui bahwa persoalan Pustu yang belum berfungsi tidak hanya terjadi di wilayah Umar Ararau, tetapi juga ditemukan di sejumlah lokasi lain di Kabupaten Mimika.

Baca Juga :

“Tahun lalu kami sudah melakukan inventarisasi terhadap seluruh fasilitas kesehatan yang sudah terbangun namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Ternyata kondisinya tidak hanya di Umar Ararau saja, tetapi tersebar di beberapa tempat lain,” ujar Johannes saat ditemui di Timika, Rabu (20/5/2026).

Menurut Johannes, pemerintah daerah kini mulai mengubah pola pendekatan dalam pengelolaan fasilitas kesehatan. Ia menegaskan bahwa keberadaan gedung semata tidak cukup untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal.

Pemerintah kini menerapkan pendekatan berbasis operasional dengan menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni ketersediaan fasilitas kesehatan, sistem pelayanan, dan tenaga kesehatan (nakes).

“Kami sekarang melakukan pendekatan berbasis operasional. Jadi setiap gedung yang dibangun harus dipastikan memiliki fasilitas memadai, sistem pelayanan berjalan, dan yang paling krusial adalah penempatan tenaga kesehatan,” tegasnya.

Memasuki tahun 2026, Pemkab Mimika mulai merealisasikan penempatan tenaga kesehatan secara bertahap di sejumlah Pustu yang telah masuk dalam daftar inventarisasi pemerintah daerah.

Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pemerataan pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di kampung-kampung dan wilayah terpencil yang selama ini mengalami keterbatasan akses layanan medis dasar.

Johannes berharap penataan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia secara sistematis dapat membuat seluruh fasilitas kesehatan yang telah dibangun segera beroperasi secara maksimal.

“Tahun lalu kami mendata, tahun ini kami mulai menempatkan tenaga kesehatan. Harapan kami, semua fasilitas ini dapat segera beroperasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya.

Penulis: StendyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *