DPR

Mimika: Bertaruh Nyawa, Anak-Anak Wataitiri Berenang Arungi Sungai demi Pulang Sekolah

29
×

Mimika: Bertaruh Nyawa, Anak-Anak Wataitiri Berenang Arungi Sungai demi Pulang Sekolah

Sebarkan artikel ini

Caption : Pilu. Itulah gambaran perjuangan anak-anak di Kampung Wataitiri, Mimika Tengah. Saat anak-anak di tempat lain pulang sekolah dengan aman, anak-anak kita di sini harus berjibaku dengan arus air demi sampai ke rumah.

{"data":{"source_platform":"mobile_2","pictureId":"2c58ab93cee54f7db237159f21b618c7","appversion":"8.4.0","stickerId":"","filterId":"","infoStickerId":"","imageEffectId":"","playId":"","activityName":"","os":"android","product":"retouch","originAppId":"7356","exportType":"","editType":"","alias":"","enterFrom":"enter_launch","capability_key":["sticker"],"capability_extra_v2":{"sticker":[{"panel":"sticker"}]},"effect_type":"tool","effect_id":"sticker"},"source_type":"hypic","tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"client_key":"awgvo7gzpeas2ho6","template_id":"","filter_id":[],"capability_key":["sticker"],"capability_extra_v2":{"sticker":[{"panel":"sticker"}]}}"}
Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Ironi pendidikan dan kemanusiaan kembali terkuak di jantung tanah Papua. Di Kampung Persiapan Wataitiri, Distrik Mimika Tengah, sekolah bukan sekadar tempat menuntut ilmu—melainkan perjalanan yang mempertaruhkan nyawa.

Fakta memilukan ini terungkap saat Wakil Ketua I DPRK Mimika, Asri Akkas, melakukan kunjungan kerja pada Kamis (9/4/2026). Dalam peninjauan tersebut, ia mendapati anak-anak usia sekolah harus berenang menyeberangi perairan hanya untuk bisa pulang ke rumah.

Kepala Kampung Persiapan Wataitiri, Marius Wepumi, menjelaskan bahwa seluruh mobilitas warga bergantung pada jalur air. Pada pagi hari, sebagian anak masih bisa diantar orang tua menggunakan perahu. Namun situasi berubah saat pulang sekolah.

Baca Juga :

“Orang tua biasanya sudah ke hutan atau ke laut mencari nafkah. Kalau tidak ada perahu lewat, anak-anak terpaksa berenang sendiri menyeberang supaya bisa sampai ke rumah,” ungkap Marius dengan nada lirih.

Kondisi ini bukan hanya soal keterbatasan akses, tetapi ancaman nyata bagi keselamatan generasi muda. Karena itu, warga mendesak pembangunan jembatan penghubung sepanjang kurang lebih 400 meter menuju pusat Distrik Atuka.

“Jembatan itu bukan lagi keinginan, tapi kebutuhan darurat,” tegas Marius.

Persoalan di Wataitiri tidak berhenti di akses transportasi. Sejak dibentuk pada 2022, pembangunan permukiman di wilayah ini nyaris stagnan. Dari total sekitar 40 kepala keluarga, hanya tersedia 11 unit rumah. Akibatnya, satu rumah harus dihuni oleh dua hingga empat kepala keluarga sekaligus.

“Dengan kondisi seperti ini, kehidupan warga sangat tidak layak. Satu rumah bisa diisi beberapa keluarga,” tambahnya.

Melihat langsung kondisi tersebut, Asri Akkas mengaku sangat prihatin. Ia menyebut situasi di Wataitiri sebagai “alarm keras” bagi Pemerintah Kabupaten Mimika.

“Ini bukan sekadar angka atau data. Ini menyangkut keselamatan anak-anak kita. Tidak boleh ada lagi anak yang harus bertaruh nyawa hanya untuk pulang dari sekolah,” tegasnya.

Ia memastikan, temuan ini akan dibawa ke pembahasan legislatif agar menjadi prioritas dalam penganggaran daerah. Beberapa kebutuhan mendesak yang diusulkan antara lain pembangunan jembatan permanen, penyediaan rumah layak huni, serta fasilitas pendidikan dasar seperti PAUD.

DPRK Mimika juga mendesak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis segera turun ke lapangan untuk melakukan survei dan mengambil langkah konkret.

Bagi warga Wataitiri, waktu bukan sekadar hitungan hari. Setiap hari tanpa pembangunan berarti satu hari lagi anak-anak mereka harus menghadapi derasnya arus perairan demi sebuah pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *