Masyarakat

Fokus pada Esensi Otsus: Ketua Lemasa: Dana Otsus Adalah Afirmasi Nyata bagi OAP, Bukan Sekadar Program

3
×

Fokus pada Esensi Otsus: Ketua Lemasa: Dana Otsus Adalah Afirmasi Nyata bagi OAP, Bukan Sekadar Program

Sebarkan artikel ini

Caption: Ketua Lemasa, Manuel Jhon Magal, saat diwawancarai awak media. (Foto: Stendi)

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Ketua Lemasa, Manuel Jhon Magal, menegaskan bahwa dana Otonomi Khusus (Otsus) merupakan bentuk afirmasi atau “diskriminasi positif” dari pemerintah pusat yang harus benar-benar dirasakan oleh Orang Asli Papua (OAP), bukan sekadar berhenti pada tataran program.

Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai awak media di sela kegiatan Musrenbang Otsus yang berlangsung di Horison Ultima Timika, Selasa (31/03/2026).

Menurutnya, kebijakan Otsus merupakan langkah strategis pemerintah pusat dalam memberikan ruang bagi masyarakat Papua untuk membangun diri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga :

“Ini afirmasi, diskriminasi positif. Tujuannya supaya Orang Asli Papua bisa membangun dirinya, baik dari pendidikan, ekonomi, maupun aspek sosial lainnya,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tujuan tersebut tidak akan tercapai apabila alokasi dana Otsus tidak tepat sasaran. Ia menilai, kegagalan implementasi Otsus pada tahap sebelumnya harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah.

“Kalau tidak sampai ke masyarakat sasaran, maka aspirasi-aspirasi itu akan terus muncul,” ujarnya.

Manuel menekankan bahwa dana Otsus harus diarahkan pada sektor-sektor fundamental seperti pendidikan, kesehatan, gizi, budaya, lingkungan hidup, hingga penguatan sejarah dan identitas masyarakat Papua.

Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika untuk membangun sinergi dengan lembaga adat, termasuk Lemasa, agar program yang dijalankan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.

“OPD kadang secara emosional masih jauh dari masyarakat adat. Karena itu perlu kerja sama dengan lembaga adat supaya kebutuhan masyarakat bisa tersampaikan dengan tepat,” jelasnya.

Di sektor pendidikan, ia menilai program pendidikan gratis belum cukup menjawab persoalan mendasar. Menurutnya, perlu adanya pendekatan tambahan melalui pembinaan berbasis asrama.

“Bukan hanya pendidikan formal. Moral, mental, dan spiritual juga harus dibangun. Kalau tidak, hasilnya tidak maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, anak-anak yang mendapatkan pembinaan melalui sistem asrama cenderung menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan tanpa pendampingan.

Di akhir pernyataannya, ia berharap pemerintah daerah lebih serius dalam mengelola dan mengalokasikan dana Otsus, termasuk memastikan dukungan kepada lembaga adat sesuai regulasi yang berlaku.

“Kalau ada masalah, mari kita duduk bersama dan selesaikan. Yang penting dana ini benar-benar sampai dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: StendyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *