Example floating
Example floating
Kesehatanpemerintah kabupaten Mimika

Mimika Menabuh Genderang Perang Melawan Malaria dan TBC: Target 50 Ribu Deteksi Dini

11
×

Mimika Menabuh Genderang Perang Melawan Malaria dan TBC: Target 50 Ribu Deteksi Dini

Sebarkan artikel ini

Caption : Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra, saat memaparkan strategi percepatan penanganan Malaria dan TBC di Mimika. Dinkes kini menargetkan 50 ribu deteksi TBC dan memindahkan fasilitas laboratorium ke tingkat kampung demi memangkas waktu penanganan. ​Foto: Stendy

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika resmi menaikkan tensi perlawanan terhadap dua musuh bebuyutan kesehatan masyarakat di Tanah Papua: Malaria dan Tuberkulosis (TBC). Tidak tanggung-tanggung, otoritas kesehatan setempat kini mengalihkan pusat gravitasi penanganan langsung ke garis depan di tingkat kampung.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold Ubra, menegaskan bahwa strategi tahun 2026 tidak lagi sekadar menunggu pasien di RSUD, melainkan jemput bola melalui penguatan fungsi Puskesmas Pembantu (Pustu) dan pemberdayaan kader kesehatan akar rumput.

​Malaria masih menjadi momok utama di Mimika. Reynold menjelaskan, fokus tahun ini adalah memutus rantai penularan melalui pengendalian faktor risiko secara agresif. Penuntasan sarang nyamuk menjadi agenda wajib yang dibarengi dengan target pemeriksaan yang ambisius.

Baca Juga :

​”Tahun ini, kami mematok target dua juta tes malaria. Ini adalah langkah akselerasi untuk memastikan setiap kasus terdeteksi secepat mungkin sebelum menjadi wabah yang lebih luas,” ujar Reynold, Kamis (26/02/2026).

​Sektor TBC juga mendapat perhatian khusus. Reynold mengungkapkan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan: dari 15 ribu pemeriksaan sebelumnya, ditemukan sekitar 2 ribu kasus positif. Angka ini menjadi beban kesehatan daerah yang signifikan.

​Merespons hal tersebut, Dinkes Mimika melakukan lompatan berani dengan menaikkan target deteksi hingga tiga kali lipat. “Untuk deteksi TBC, kami naikkan menjadi 50 ribu pemeriksaan. Semakin banyak yang kita periksa, semakin cepat rantai penularan kita putus,” tegasnya.

​Satu terobosan administratif dan teknis yang menjadi “angin segar” tahun ini adalah pemangkasan birokrasi pemeriksaan sampel dahak (sputum). Berkat pencairan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DPA), kini fasilitas pemeriksaan sputum telah tersedia di tingkat kampung.

“Saya senang sekali DPA sudah cair. Jadi, sputum TBC tidak lagi perlu kita kirim ke kota. Kita eksekusi di kampung-kampung. Petugas puskesmas bisa langsung periksa di tempat,” ungkap Reynold dengan nada optimis.

​Meski target nasional kesembuhan TBC berada di angka 95 persen, Mimika realistis dengan menetapkan target 78 persen untuk tahun 2025/2026. Saat ini, capaian Mimika berada di angka 76,6 persen—sebuah jarak yang tipis namun menantang untuk dikejar.

Selain pengobatan, prioritas juga diarahkan pada terapi pencegahan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak di bawah 15 tahun yang tinggal satu atap dengan pasien TBC. Dengan deteksi dini dan fasilitas yang lebih dekat ke pintu rumah warga, Dinkes Mimika berharap “bom waktu” penyakit menular ini bisa segera diredam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *