Example floating
Example floating
Masyarakat

Papua Pegunungan: “The Last Highland Paradise” dan Tantangan Merawat Jati Diri Budaya di Tengah Branding Global

840
×

Papua Pegunungan: “The Last Highland Paradise” dan Tantangan Merawat Jati Diri Budaya di Tengah Branding Global

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sonni Lokobal Ketua Analisis Papua Strategis (APS) Papua Pegunungan

Oplus_0
Example 468x60

WAMENA Nemangkawipos.com Oleh: Sonni Lokobal Ketua Analisis Papua Strategis (APS) Papua Pegunungan

Papua Pegunungan adalah wilayah yang tidak hanya menyimpan keindahan geografis menakjubkan, tetapi juga kedalaman budaya yang luar biasa. Di atas awan, di jantung pegunungan tinggi, masyarakat adat hidup dengan sistem nilai, ritus, dan tradisi yang telah terbentuk jauh sebelum konsep negara hadir.

Dalam kacamata analisis budaya, daerah ini memiliki warisan tak benda (intangible heritage) yang menjadikan Papua Pegunungan bukan sekadar tempat, tetapi juga sebuah pengalaman hidup yang penuh makna. Inilah yang mendasari pandangan kami di APS bahwa Papua Pegunungan layak dibangun sebagai “The Last Highland Paradise”, sebuah identitas global yang menggambarkan Papua sebagai surga pegunungan terakhir yang masih hidup dan asli.

Baca Juga :

Budaya sebagai Aset Utama Branding

Branding bukan sekadar promosi, melainkan mengangkat jati diri dengan bahasa yang dimengerti dunia. Saat ini, dunia tidak hanya mencari destinasi indah, tetapi juga pengalaman yang spiritual, menyentuh, dan otentik.

Papua Pegunungan memiliki semua itu—mulai dari sistem pertanian tradisional (wen), kekayaan sosial melalui ternak babi (wam), hingga kearifan dalam mengelola konflik dan kebutuhan sosial (wene). Semua ini menyatu dalam ritus, simbol, dan nilai-nilai yang bisa dikenalkan secara elegan kepada dunia luar.

Namun, potensi saja tidak cukup. Diperlukan narasi, strategi, dan komitmen bersama untuk menjaga keaslian budaya agar tidak tergerus komersialisasi.

Festival Lembah Baliem: Panggung Global yang Harus Tetap Berakar

Festival Budaya Lembah Baliem di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, adalah panggung strategis untuk memperkenalkan budaya Papua Pegunungan. Tetapi festival ini tidak boleh sekadar menjadi tontonan tahunan yang kehilangan esensi.

Festival harus menjadi “jendela kultural Papua Pegunungan” yang menampilkan:

1. Nilai-nilai budaya asli, bukan atraksi turistik yang direkayasa.

2. Partisipasi penuh masyarakat adat sebagai pelaku utama, bukan sekadar pelengkap acara.

Panggung edukasi bagi dunia tentang filosofi hidup orang pegunungan, bukan hanya parade pakaian perang. Konsep “kekhasan mendunia” yang menegaskan bahwa yang ditonton bukan sekadar kebudayaan, tetapi cara hidup yang masih bertahan di tengah modernitas.

Tantangan dan Harapan

Branding Papua Pegunungan sebagai “The Last Highland Paradise” akan gagal total jika tidak dimulai dengan kesadaran bersama untuk merawat nilai-nilai budaya lokal secara konsisten dan terorganisir.

Pemerintah, komunitas adat, pemuda, dan pelaku kebudayaan perlu duduk bersama merumuskan kerangka etika budaya, agar yang ditampilkan ke dunia bukan budaya yang dikomersialisasi, tetapi budaya yang dimuliakan.

Di era globalisasi yang serba cepat ini, kita dihadapkan pada pilihan: menjadi penonton perubahan, atau menjadi penentu arah narasi. Papua Pegunungan masih bisa menjadi penentu, asalkan tetap berakar pada jati diri budaya yang diwariskan leluhur.

Semoga tulisan ini menjadi rekomendasi sekaligus pengingat agar kita terus menjaga keistimewaan sebagai anak Papua yang mampu melestarikan budaya dan kearifan lokal demi masa depan yang bermartabat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *