MasyarakatPolitik

Dari Polisi, Legislator hingga Penjual Kopi: Saleh Alhamid dan Jalan Politik Tanpa Pamrih

117
×

Dari Polisi, Legislator hingga Penjual Kopi: Saleh Alhamid dan Jalan Politik Tanpa Pamrih

Sebarkan artikel ini

“Sengsara Membawa Nikmat”, Prinsip SA Setelah Mengantar Pemimpin Mimika ke Kursi Kekuasaan

Example 468x60

TIMIKA, Nemangkawipos.com – Di tengah dinamika politik Kabupaten Mimika, nama Saleh Alhamid, atau yang akrab disapa SA, merupakan salah satu figur senior dengan perjalanan panjang dan penuh dinamika. Dari seorang anggota Polri, terjun ke dunia politik, menjadi legislator dua periode hingga memimpin partai politik, perjalanan Saleh Alhamid sarat dengan pengalaman dan pelajaran tentang arti sebuah pengabdian.

Besar di Kabupaten Fakfak, Saleh menempuh pendidikan dasar di Kokas, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Fakfak dan SMA Negeri 1 Fakfak.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mengawali perjalanan karier sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada 1984. Selama kurang lebih 17 tahun mengabdi sebagai aparat kepolisian, Saleh akhirnya mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Baca Juga :

Pada 2001, ia memilih mengundurkan diri dari institusi Polri dan terjun ke dunia politik di Kabupaten Mimika.

Langkah politiknya dimulai melalui Partai Amanat Nasional (PAN). Seiring perjalanan waktu, Saleh kemudian berlabuh di Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Di partai tersebut, kepercayaan terhadap dirinya terus tumbuh hingga akhirnya ia dipercaya memimpin DPC Partai Hanura Kabupaten Mimika. Jabatan tersebut masih diembannya untuk periode kepengurusan 2025–2030.

Karakter politiknya dikenal tegas, lugas dan memiliki pendirian kuat. Kepercayaan masyarakat juga mengantarkannya duduk sebagai anggota DPRK Mimika selama dua periode.

Pada periode pertama, Saleh dipercaya menjabat sebagai Ketua Komisi A DPRK Mimika. Sementara pada periode kedua, ia dipercaya menduduki posisi Sekretaris Komisi C DPRK Mimika.

Namun, perjalanan politik Saleh Alhamid tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu ujian politik terbesar terjadi pada Pilkada Mimika 2024. Ketika Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura mengeluarkan rekomendasi kepada pasangan Maximus Tipagau dan Peggi Patricia Patipi, Saleh sebagai Ketua DPC Hanura Mimika justru mengambil sikap politik berbeda.

Ia memilih memberikan dukungan kepada pasangan Johannes Rettob dan Emanuel Kemong. Bagi Saleh, pilihan politik bukan sekadar persoalan mengikuti keputusan atau arus kekuasaan. Ada prinsip yang menurutnya harus tetap dijaga.

Hanura adalah Hati Nurani Rakyat. Saya memegang teguh makna itu dalam setiap langkah politik,” demikian prinsip yang menjadi dasar sikap politiknya.

Pilihan tersebut kemudian membuahkan hasil. Bersama partai-partai koalisi, pasangan Johannes Rettob dan Emanuel Kemong berhasil memenangkan Pilkada Mimika dan dipercaya memimpin Kabupaten Mimika periode 2025–2030.

Namun, setelah kemenangan politik itu diraih, Saleh Alhamid justru memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan orang.

Ia tidak mengejar jabatan. Ia juga tidak menjadikan kemenangan politik sebagai jalan untuk mendapatkan proyek pemerintah.

Kini, kesehariannya justru dijalani secara sederhana dengan berjualan kopi. Di tengah aktivitas tersebut, ia tetap berbaur dengan masyarakat, mendengarkan cerita warga dan menjalani kehidupannya sebagai masyarakat biasa.

Bagi Saleh, pilihan tersebut merupakan bagian dari prinsip hidup yang telah ia pegang sejak lama.

Ia bukan kontraktor. Ia juga bukan ASN yang mengharapkan jabatan. Ia hanya penjual jasa politik. Dari jasa itu lahirlah pemimpin yang hari ini memimpin Mimika,”

Menurutnya, ketika proses politik telah selesai dan pemimpin telah terpilih, seorang politisi tidak semestinya terus-menerus menuntut balas jasa.

Setelah selesai, ia kembali menjadi masyarakat biasa. Ia memilih berjualan kopi daripada harus berkeliling merengek, menunduk dan meminta proyek ke dinas-dinas,”

Bagi Saleh, harga diri jauh lebih mahal daripada kekuasaan.

Politik, menurut dia, seharusnya menjadi jalan pengabdian kepada masyarakat, bukan alat untuk mencari keuntungan pribadi.

Sikap tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap budaya politik yang masih memandang bahwa perjuangan politik harus selalu dibayar dengan jabatan maupun proyek.

Saleh memilih membuktikan bahwa seorang politisi tetap dapat hidup terhormat meski tidak lagi berada di lingkaran kekuasaan.

Di balik secangkir kopi yang ia racik setiap hari, tersimpan perjalanan panjang seorang mantan polisi, legislator dua periode, ketua partai sekaligus seorang pejuang politik yang memilih kembali berdiri di tengah masyarakat.

Bagi Saleh Alhamid, hidup pada akhirnya mengajarkan satu kalimat sederhana yang terus ia pegang hingga hari ini:

Sengsara membawa nikmat. Perjuangan sejati bukan diukur dari apa yang kita terima setelah berkuasa, tetapi dari ketulusan mengabdi tanpa meminta balas jasa.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *